Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Aroma dan Pedasnya Melegendaris

Moch. Chariris • Senin, 9 Agustus 2021 | 21:00 WIB
aroma-dan-pedasnya-melegendaris
aroma-dan-pedasnya-melegendaris


Siapa yang tak kenal dengan Lodeh Mbah Rum, Dusun Wates, Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini. Khususnya pecinta kuliner. Meski memiliki menu sederhana, sayur lodeh terong dengan lauk tempe, namun aroma khas rempahnya bikin ketagihan.


BAGI pecinta kuliner, tentu tak lengkap jika belum mencoba makanan khas tradisional yang tak lekang zaman ini. Tak sulit untuk menemukan warung Mbah Rum. Selain sudah terkenal hingga berbagai daerah, lokasinya berada di tepi jalan raya yang menjadi akses warga ke Kota Mojokerto dan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Terpatnya, di sisi timur jalan penghubung itu.


Warung legendaris ini disebut-sebut sudah berdiri sejak sebelum kemerdekaan. ''Kita ini meneruskan dari mbah-mbah terdahulu. Pokoknya, ini (warung lodeh) sudah ada sejak sebelum merdeka. Sejak zaman Belanda, sudah ada,'' ungkap Ikhwan, 25, Cicit Mbah Rum.


Sehingga, sampai sekarang warung lodeh ini sudah menjadi warisan turun-temurun di keluarga Mbah Rum. ''Sekarang sudah berjalan tiga generasi. Waktunya ibu saya (Riyati). Tapi, karena sudah tua, saya yang diminta mengelolanya,'' tambahnya.


Di tengah bermunculan rumah makan mewah yang menawarkan berbagai menu, lodeh Mbah Rum seolah tak lekang zaman. Meski menu penyajiannya sederhana, setiap harinya, warung ini tak pernah sepi dari pelanggan. Selain masyarakat umum, juga kerap jadi jujukan pejabat pemerintahan.


''Kalau Minggu, pejabat-pejabat yang gowes, sering juga mampir sini untuk sarapan lodeh. Pelanggan kenalnya lodeh Ngabar,'' ujarnya. Warung Mbah Rum buka dari pukul 03.30 hingga 10.00. Meski hanya enam jam, menu tradisional ini selalu tak tersisa. Kecuali, Jumat Legi, warung ini libur.


Banyaknya pelanggan, membuat dirinya harus menghabiskan beras rata-rata 20 kilogram per hari. Sedangkan, untuk sayur terong menghabiskan hingga 50 kg-60 kg per hari. ''Itu kalau hari biasa, kalau Sabtu dan Minggu malah bisa habis sampai 30 kilogram beras," tegasnya.


Dengan bumbu rempahnya, lodeh ini juga terkenal memiliki aroma khas. Rasanya sedikit pedas di setiap sajiannya, membuat lidah sangat dimanjakan dan ketagihan. Para pecinta kuliner pun wajib hukumnya mencicipi lodeh Mbah Rum.


Seporsi nasi dengan lauk empat iris tempe goreng, dibanderol Rp 7,5 ribu. Itu sudah termasuk kerupuk. Jika nambah teh hangat, harganya menjadi Rp 11 ribu. (ori/ris)


 


Editor : Moch. Chariris