Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mau Mendaki? Sewa Alat Saja Lebih Murah

Imron Arlado • Sabtu, 3 April 2021 | 18:00 WIB
mau-mendaki-sewa-alat-saja-lebih-murah
mau-mendaki-sewa-alat-saja-lebih-murah

Hiking atau mendaki gunung kini tak lagi sekedar ajang petualangan dalam menguji adrenaline. Tapi sudah menjelma sebagai gaya hidup demi memenuhi kebutuhan refreshing bagi para milenial. Hal ini pun turut memunculkan berbagai macam produk perlengkapan petualangan dengan segala pernak-perniknya.


Tak jarang, kini bermunculan toko atau outlet yang menyediakan outfit hingga peralatan outdoor untuk memenuhi kebutuhan camping atau hiking. Mereka tak sekadar menjual, sejumlah outdoor shop juga menyediakan jasa rental alat yang siap dipakai untuk satu atau dua hari pendakian.


Dengan cara ini, para pendaki seolah ’’dimanjakan’’ selama menjelajah dan menikmati kerennya panorama alam. Serasa anomali jika dibandingkan dengan metode atau cara mendaki konvensional yang selalu dituntut survive dengan peralatan seadanya demi mempertahankan keseimbangan alam.


Hal ini pun diakui Mokhamad Basuni, relawan sekaligus owner outdoor shop asal Desa Puloniti, Kecamatan Bangsal. Sebagai pencinta alam yang lahir di generasi tahun 2000-an, Basuni menilai proses penjelajahan hari ini sudah sangat dimudahkan. Khususnya bagi para pendaki pemula yang tidak perlu repot teknik survival sebelum mendaki.


Cukup mengeluarkan uang Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribu perhari, mereka sudah bisa terlindungi selama berjalan di alam bebas. ’’Sekarang sudah sangat murah dan mudah. Untuk tenda saja, harga sewanya cukup Rp 40 ribu untuk 4 orang. Terus sleeping bag Rp 10 ribu, nesting juga Rp 10 ribu dan senter Rp 5 ribu perhari,’’ terangnya.


Tidak hanya terjangkau. Kualitas alat juga semakin simple. Bahan-bahan yang digunakan juga ringan dan ramah lingkungan. Sehingga, sangat memudahkan para pendaki pemula dalam melakoni penjelajahan. ’’Alat ultralight sekarang bahannya aluminium, jadi ringan. Dulu untuk bahan bakar masak saja harus memantik parafin yang berbau. Sekarang tinggal isi ulang gas portable sudah bisa masak dan tidak bau,’’ tambahnya.


Meski dimudahkan, namun Basuni tetap mewanti-wanti kepada para pendaki untuk tetap memperhatikan keseimbangan alam. Khususnya dalam menjaga ego selama perjalanan muncak hingga finish. Pasalnya, tak jarang masih ditemukan sampah plastik dan basah ditemukan di area pendakian. Hal ini yang kerap memantik kebakaran hutan.


Untuk mencegah risiko itu, Basuni tetap memberikan edukasi kepada pendaki sebelum menggunakan atau menyewa alatnya. Panjang track, ketinggian bukit, hingga cuaca menjadi indikator utama yang wajib diperhatikan sebelum naik ke puncak. Termasuk memperhatikan kearifan lokal warga sekitar lokasi pendakian yang harus dihormati.


Sehingga, selama mendaki, tidak sekadar berwisata semata. Tapi juga menjaga kestabilan lingkungan agar keindahan dan panorama terus bertahan lama. ’’Misalnya, kalau makan yang masih panas tidak boleh di dalam tenda. Kondisi lokasi pendakian juga harus diketahui sebelum berangkat, karena cuaca dan kontur medan pendakian berbeda-beda satu sama lain,’’ pungkas pegiat Komunitas Relawan Indonesia (KRI) Mojokerto ini. 

Editor : Imron Arlado