Dulu, nama comboran cukup dikenal luas di masyarakat Kota Mojokerto. Nama tersebut disematkan pada sebuah lokasi yang menjadi tempat pemberhentian dan pemberangkatan moda transportasi dokar atau delman. Kendaraan tradisional roda dua bertenaga kuda itu dulu kerap mangkal di sisi utara Jalan Brawijaya.
Delman telah digunakan sebagai sarana transportasi sejak zaman kolonial. Bahkan, tidak hanya sebagai angkutan umum, kereta kuda juga diidentikkan dengan ukuran strata sosial di masyarakat.
Maka tak heran jika orang-orang kaya kala itu memiliki dokar sebagai kendaraan pribadi. Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengatakan, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan, dokar sudah dijadikan sebagai alat transportasi publik.
Di Kota Mojokerto, salah satu titik lokasi yang dijadikan pusat mangkalnya para penarik andong adalah di tepi Sungai Brantas. Tepatnya di sepanjang Jalan Brawijaya mulai dari simpang empat Cakarayam hingga Jembatan Pulorejo. ’’Terminal dokar itu dikenal dengan nama comboran,’’ paparnya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, asal penamaan comboran berasal dari kebiasaan para kusir yang memberi makanan pada kuda penarik delman. Bahan makanan yang biasa digunakan adalah campuran rumput, ampas tahu, dan tetes tebu.
Olahan pakan itu lah yang disebut combor. Sehingga terminal dokar juga dikenal juga sebagai comboran. Kala itu, terang dia, di seberang Jalan Brawijaya terdapat pepohonan yang rindang. Sehingga para kusir menjadikannya sebagai tempat favorit untuk memarkir kereta kuda.
Tak hanya itu, lokasi tersebut juga dinilai cukup strategis untuk mencari calon penumpang. Pasalnya, tidak jauh dari comboran, terdapat Pasar Cakarayam. Sehingga banyak lalu lalang warga yang beraktivitas jual-beli di pasar hewan terbesar di Kota Mojokerto saat itu.
Apalagi, di sentra perdagangan tersebut juga dilengkapi dengan rumah pemotongan hewan. ’’Sais dokar banyak menerima penumpang yang minta diantar ke Pasar Cakarayam,’’ ulasnya.
Selain itu, delman juga tak jarang mengantar penumpang untuk berbelanja ke Pasar Kliwon. Sebab, jarak antara comboran dengan pasar tertua di Kota Onde-Onde juga cukup dekat.
Untuk menuju pusat perbelanjaan yang berada di Jalan Majapahit itu cukup menempuh perjalanan sekitar 300 meter. Yuhan menyebutkan, delman di comboran juga melayani trayek ke sejumlah lokasi lain.
Bahkan, rutenya yang dilalui lebih fleksibel dibanding angkutan bermesin lainnya. Sehingga, dokar-dokar comboran mampu menjangkau tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh moda transportasi umum.
’’Dokar comboran terkadang juga disewa secara khusus oleh penumpang dengan tujuan tertentu,’’ ujar penulis buku Revolusi di Pinggir Kali ini.
Dokar comboran juga melayani jasa mengantar penumpang untuk naik angkutan umum. Terlebih, jarak antara Comboran Mojokerto juga cukup dekat dengan terminal bus yang saat itu masih berada di Alun-Alun Kota Mojokerto. Termasuk melayani penumpang menuju ke stasiun kereta api. (abi)
Editor : Moch. Chariris