Bagi penikmat kuliner soto daging, mungkin rasanya kurang lengkap jika menu masakan disajikan tanpa dikagetkan dengan suara ’dok’. Sebab, bunyi yang bersumber dari hentakan antara botol dan papan kayu itu lah yang menjadi ciri khas olahan makanan berbahan aneka rempah-rempahan tersebut.
TERDAPAT beragam alasan di balik pedagang melakukan penyajian hidangan dengan letupan suara tersebut. Tidak sekadar membuat sensasi, tetapi lebih pada mewarisi tradisi yang telah dilakukan secara turun temurun.
Hingga akhirnya, ciri khas tersebut melekat di masyarakat yang mengenal kuliner legendaris itu dengan sebutan soto dok. Roisyah, 26, pedagang soto dok di Dusun Segaran, Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto menjelaskan, dia menggeluti usaha kuliner soto dari kakeknya, Mbah Saulan, yang berdagang sejak 1952.
Tidak hanya mempertahankan resep asli masakan, pedagang generasi ketiga ini juga tetap melanjutkan kebiasaan kakeknya yang meracik sajian soto dengan membantingkan botol ke atas meja kayu. ”Botol itu isinya kecap asin. Jadi setelah dituangkan, lalu didokkan ke meja,” terangnya.
Menurutnya, tradisi tersebut sudah dilakukan jauh sebelum dirinya belum lahir. Kemudian diteruskan oleh ibunya, Rubini. Dan sampai dengan saat ini, warisan itu masih tetap ia pertahankan.
Roisyah menceritakan, berdasarkan cerita kakeknya, pada masa kolonial dulu, tidak sedikit orang Belanda yang menyukai masakan soto. Pun demikian saat masa pendudukan Jepang, kuliner kuah berwarna kuning ini juga menjadi menu favorit dari pasukan asal Negeri Matahari Terbit.
”Dulu yang makan kebanyakan orang Belanda dan Jepang. Dan ciri khas mereka itu suka asin, makanya dikasih kecap asin,” ulasnya. Di sisi lain, pelanggan dari warga asing itu juga memiliki kebiasaan saling mengobrol hingga membuat gaduh suasana warung.
”Untuk mengheningkan suasana ramai itu, akhirnya botol didok agar mereka agak terdiam,” tandas alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini. Namun, kata dia, ada juga pemaknaan lain di balik menghantamkan botol kecap asin itu.
Dia mengatakan jika sebagian pedagang mempercayainya untuk memperbanyak pelanggan. ”Ya ada juga yang bilang supaya tambah ramai. Tapi, terlepas dari itu, dok merupakan sebuah ciri khas saja,” imbuhnya.
Sementara itu, Atrem, 50, pedagang soto di Jalan R.A Basuni, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto menambahkan, menghentakkan suara dok tidak menjadi suatu kewajiban dari penjual soto daging.
Hanya, bila kebiasaan tersebut tidak dilakukan, maka dia merasa ada yang ganjil dalam hal cara penyajian. ”Untuk seni saja, karena sudah menjadi ciri khas. Jadi, kalau tidak didok, kayak ada yang kurang,” ulasnya.
Tidak hanya menambah cita rasa, rata-rata pelanggan juga lebih menyukai hidangan soto yang disertai bunyi dok. Sebab, kata dia, suara tersebut juga untuk meyakinkan pembeli, bahwa menu yang disantap benar-benar olahan soto dok yang sejak lama eksis sebagai salah satu kuliner khas Indonesia.
”Ciri khas soto dok ini yang harus tetap dipertahankan,” tandas warga asal Kabupaten Lamongan ini.
Editor : Moch. Chariris