Pandemi Covid-19 memaksa warga yang satu ini kreatif. Dia membuat rintisan usaha berbasis aplikasi digital layanan pesan antar. Bermitra dengan pedagang kecil sekitar kampung sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru.
SEAKAN tiada orang yang tidak terdampak pandemi Covid-19. Termasuk Muchamad Muhaimin, warga Dusun Sumberbendo RT 06 RW 02, Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Bisnis syuting video yang digelutinya bertahun-tahun jadi satu jenis pekerjaan yang melesu di tengah pandemi.
Pria berusia 30 tahun ini tak sendiri. Ia mengaku, teman-temanya di kampung juga mengalami hal yang sama. Bahkan, tak sedikit di antaranya yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari perusahaan. ’’Setiap hari mendengar teman-teman mengeluh. Kebanyakan karena PHK,’’ ujar dia.
Pria yang akrab disapa Cak Mat ini, belakangan didorong sejumlah temannya mengembangkan usaha lain. Beralih dari tukang syuting video beranjak ke bisnis aplikasi digital. Maklum, dia memang akrab dengan dunia berbau IT (teknologi informasi). ’’Selain main video, saya sebelumnya juga punya workshop menggarap konveksi, hingga pesanan drone,’’ sebut dia.
Dia mengaku belajar dunia teknologi informasi berbekal rasa penasaran. Kebanyakan Cak Mat banyak menggali melalui internet. Ditambah pula menimba ilmu kepada koleganya yang telah mempelajari teknologi informasi terlebih dahulu. ’’Awalnya dari penasaran lalu mencoba membuat aplikasi sendiri,’’ cerita Cak Mat.
Belakangan, setelah rampung, aplikasi digital milik Cak Mat dapat diunduh dari toko aplikasi besutan sistem operasi android. Aplikasi itu dinamai EN-GO, singkatan dari Nusantara Go. ’’Awalnya singkatan dari Ngoro Go (Ngoro Jalan). Tapi saya ingin aplikasi ini bisa berkembang luas. Kemudian kepanjangannya saya ubah jadi Nusantara-Go alias EN-GO,’’ beber dia.
Aplikasi tersebut masih sangat baru sekali. Baru per 1 Juni lalu dia meresmikannya. Meski begitu, kini lewat aplikasi tersebut sudah bisa menggandeng sebanyak 20-an driver. Alias semacam tukang ojek yang bermitra dengan aplikasi EN-GO.
Selain itu, mitra usaha yang digandeng sudah mencapai 60 jenis usaha. Itu seperti dari restoran, kafe, warung, hingga pedagang kaki lima. ’’Kebanyakan dari sekitaran Ngoro hingga Mojosari,’’ sebutnya.
Setiap hari, order di aplikasinya mencapai 30 hingga 50 order. Ketika akhir pekan biasanya lebih tinggi permintaannya. Dia mengaku, aplikasinya memang mengadopsi sistem yang sama dengan aplikasi yang telah menginternasional. Yakni, aplikasi yang dimiliki Menteri Pendidikan Nasional Nadiem Makarim.
Sistem operasi aplikasi juga banyak mengadopsi dari sistem tersebut. Aplikasinya menyediakan layanan pesan antar makanan, layanan antar jemput orang, baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. ’’Harapan saya, aplikasi ini bisa membantu banyak orang. Terutama, mereka yang terkena PHK,’’ cetus dia.
Cak Mat mengakui, tak mudah membangun aplikasi ini. Karena, dibutuhkan perjuangan dan daya tahan dalam menjalankannya. Awalnya, sejak ide membuat aplikasi muncul dia menggarap sekitar empat bulan lalu. Belakangan, setelah muncul pandemi Covid-19, akhirnya mempercepat penggarapan. Hingga awal Juni ini akhirnya bisa diresmikan.
’’Sekitar empat bulan menggarap aplikasi ini. Itu pun disemangati adanya korona. Mungkin kalau tidak ada korona, mungkin sampai sekarang belum bisa jadi,’’ cerita dia terkekeh.
Hingga kini, dia sudah mengeluarkan sekitar Rp 10 juta untuk merintis bisnis ini. Dia berharap, aplikasi digitalnya bisa diterima masyarakat lebih luas lagi. ’’Kami sekarang masih ingin menambah tenaga marketing. Agar, usaha ini bisa berkembang,’’ pungkas Cak Mat. (abi)
Editor : Moch. Chariris