Di tengah pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) ini tak lantas membuat penangkar burung berkicau terkurung. Mereka masih bisa meraup untung di tengah beratnya ekonomi dampak persebaran virus korona. Meningkatnya jumlah pecinta burung semasa stay at home seolah menjadi berkah tersenduri bagi Handy Tyan Aristya.
Berawal dari hobi piara burung berkicau yang sudah ditekuninya selama empat tahun terakhir,tidak disadari justru membuatnya mendapati keuntungan. ’’Total ada 16 pasang burung yang saya piara,’’ ungkapHandy Tyan Aristya, ditemui di rumahnya di Dusun/Desa Gayam, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Kamis (4/6).
Belasan pasang burung piaraan itu terdiri 14 pasang jenis black throat atau finch. Dan, masing-masing satu pasang burung cucak hijau dan cucakrawa. ’’Tapi, yang paling untung ini cucakrawo,’’ imbuhnya. Meski satu pasang burung yang dipelihara sejak 2016, setiap 8-10 sepuluh hari dia bisa memanen telurnya.
Bahkan, dari telur tersebut, Tyan tak menunggu lama untuk menjual. Hanya dalam kurun waktu 15 hari setelah ditetaskan menggunakan perangkat oven, cucakrawa anakan itu sudah ditunggu pembeli. ’’Harga satu jodoh anakan Rp 10 juta,’’ tegas pria yang juga mengisi kesehariannya sebagai ojek online (ojol).
Karena tinginya permintaan pasar, tak jarang telur yang baru menetas terkadang sudah dibeli oleh pelanggan yang sudah mengantre. Tidak sampai hitungan menit, calon pembeli ini tak sabar untuk memiliki. ’’Dalam hitungan detik. Telur baru retak itu sudah ada yang beli.
Kalau seperti itu harganya saya banderol Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta. Karena kan indukan cucakrawa ini jarang yang punya,’’ paparnya. Tyan menceritakan, dalam berternak memang berbeda dengan penangkar lainnya. Khusus piaraan cucakrawa, dia memilih menetaskan telur dengan cara di-oven.
Langkah ini untuk menghindari kerusakan telur akibat dipatuk burung jantan maupun betina. Perilaku indukan ini sering terjadi saat birahi indukannya belum normal. Di mana saat kondisi tersebut membuat induk enggan mengerami telur. Sebaliknya, yang terjadi induk justru membuang telur bahkan piyik.
’’Sebagai alternatif mau tidak mau saat bertelur ya harus ditunggui untuk menghindari itu,’’ jelasnya. Sehingga setiap jadwal indukan ini bertelur, dia selalu stand by di depan kandang untuk mengamankan telur hingga akhirnya ditetaskan dengan di-oven.
’’Saya juga hapal kapan cucakrowo ini akan betelur. Jadwalnya, jaraknya 8 hari sekali. Kebiasannya bertelurnya juga pagi hari, sekitar pukul 06.00-06.30 WIB,’’ urainya. Berawal dari hobi ini dia kini menggemari penangkaran burung berkicau yang ditekuni. Perawatan, kata dia pun cukup mudah. Termasuk untuk soal makanan.
Tyan biasa menyajikan makanan burung piaraannya menggunakan pisang dan pepaya. Untuk meningkatkan produksi, tak jarang dirinya memberi makanananjangkrik,cacing, hingga pure sekaligus bisa meningkatkan nilai gizinya. ’’Terutama ikan gatul dan cacing ini untuk meningkatkan birahi. Jika birahi meningkat, produksi telur juga akan meningkat,’’ tegas bapak satu anak ini.
Tidak ada yang sulit dalam merawat buruan piaraannya. Hanya, yang perlu diperhatikan adalah sirkulasi udara pada tangkar. Sebab, burung dinilai rentan mengalami stres. ’’Beda orang saat mengambil telur di tangkar juga bikin burung stres,’’ ujarnya.
Pernah saat dirinya sedang tidak berada di rumah saat jadwal burung piaraannya bertelur. ’’Kebetulan, waktu itu ibu saya yang mengambil. Setelah itu indukannya stres lama. Tidak mau bertelur selama lima bulan,’’ imbuhnya.
Berbeda untuk 14 burung black throat finch. Perawatan burung ini lebih sederhana. Meski anakannya tak semahal cucakrowo. Burung ini bisa menjadi penopang ekonomi keluarga. Karena harganya masih stabil di pasaran. Di samping banyak pecinta burung yang terpikat dengan kicauannya.
’’Untuk anakan biasanya laku Rp 400 ribu-Rp 450 ribu per biji. Jadi kalau menetas tiga atau empat telur tiap kali produksi, tinggal kali kan saja,’’ tuturnya. Perputaran telur pun hanya membutuhkan waktu selama 14 hari. Sehingga selama setengah bulan dirinya bisa menjual 8 anakan atau 4 pasang.
Tyan menegaskan, di masa sulit sekarang ini penangkaran burung memang menjadi peeluang menjanjikan sekaligus menguntungkan. Meski pembelinya datang dari lokalan, tak jarang anakan burung piaraan dijual hingga luar provinsi. ’’Ada yang sampai Jakarta dan sekitaran Jatim,’’ tandasnya.
Penangkaran juga membantu menciptakan lapangan kerja. Para penangkar juga terlibat aktif dalam menyelamatkan satwa dari ancaman kepunahan akibat maraknya perburuan di alam liar. Kehadiran penangkar burung menyebabkan roda perekonomian di pasar burung terus menggeliat, tanpa mengganggu populasi burung di alam liar.
”Keberadaan penangkar juga sangat berperan dalam memajukan hobi burung kicauan. Apalagi, penggemar burung kicauan saat ini juga menjadi salah satu komunitas besar. Hampir setiap daerah ada,’’ tandas pria kelahiran 1992 ini.
Editor : Moch. Chariris