Sejumlah tempat keramaian kini berubah menjadi kesunyian. Mulai dari sekolah hingga sektor wisata. Kegiatan masyarakat yang mengundang banyak orang pun ditiadakan.
Pedapatan pedagang kreatif lapangan (PKL) yang biasa mengandalkan gerobak pun hilang akibat terdampak Covid-19. Bahkan, Ahmad Mustofa Kholil, terpaksa mengganti susu anaknya dengan tajin.
Sepuluh tahun pria 32 tahun ini bekerja sebagai PKL. Setiap hari, Ahmad Mustofa Kholil, warga Desa Banjarsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini selalu ditemani gerobak dagangan miliknya. Berpindah-pindah.Dari satu tempat ketempat keramaian lainnya.
Hal itu sekaligus menjadi aktivitas hariannya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Mulai dari berkeliling berjualan pentol hingga membuat arena permainan anak saat ada hiburan. Seperti odong-odong.
”Jadi kalau ada hiburan saya mencari rezeki lewat odong-odong. Nanti kalau sepi tanggapan atau hiburan saya jualan pentol ke sekolah-sekolah,” katanya. Namun, sejak pemerintah menerapkan kebijakan dengan meliburkan sekolah hingga menutup wanawisata, serta melarang warga mengadakan kegiatan yang bersifat mengumpulkan massa, membuatnya kehilangan pekerjaan utama.
Padahal, hasil dari kerja kerasnya tersebut lumayan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di mana dalam satu hari, ia biasanya mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah antara Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu. ”Tidak tentu. Tergantung ramai dan tidaknya. Hasil jualan sebanyak itu juga masih kotor,” bebernya.
Ahmad mengaku semenjak ia berhenti melakoni profesinya sebagai PKL karena terdampak Covid-19, kini membuatnya harus berpikir ulang. Yakni, mencari pekerjaan lain agar mendapat penghasilan. Berbagai upaya untuk mencari kerja pun ia lakoni. Namun, karena situasi dan kondisi pandemi saat ini segala sektor perekonomian menjadi lumpuh.
Sehingga ia merasa kesulitan untuk mendapatkan kerja. ”Padahal saya tidak memilih pekerjaan. Kuli bangunan atau pekerjaan lainnya yang bisa saya kerjakan akan saya lakoni. Yang penting menghasilkan uang. Tapi tidak ada,” keluhnya.
Perekonomiannya pun merosot tajam. Akhmad yang menjadi tulang punggung keluarga tak lagi mendapat pendapatan. Hingga akhirnya dia harus menjual sepeda motor Honda Beat tahun 2012 miliknya. Sebagian uang hasil jual motor lalu dibelikan sepeda motor Yamaha Jupiter Z yang harganya lebih murah.
”Lumayan saya dapat untung Rp 2 juta. Bisa dipakai untuk membeli kebutuhan sehari-hari,” katanya. Untuk memininimalisir pengeluaran, dirinya mencoba untuk berjualan popcorn lewat online. Akan tetapi hasilnya tak bisa diandalkan. Sebab, jarang sekali ada orang yang membeli.
Dalam satu hari dia hanya mampu menjual satu paket popcorn. Satu paket itu harganya Rp 25 ribu. ”Kadang sehari tidak ada yang beli. Dan dalam satu paket itu saya mendapatkan hasil Rp 5 ribu. Soalnya, jagungnya juga membeli untuk dijual lagi,” jelasnya.
Penghasilan itu tentunya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Sehingga terpaksa ia memangkas pengeluaran. Bahkan, susu anak keduanya yang masih berusia 1 setengah tahun itu diganti dengan tajin.
”Selain jualan popcorn itu, kalau pagi saya membantu orang tua di sawah. Dan lumayan dikasih beras 5 kilogram setiap satu Minggu sekali,” tandasnya. (shalihin)
Editor : Moch. Chariris