Belajar di rumah akibat Covid-19 banyak menumbuhkan ide kreatif bagi Keisha Arlana Maydisha, 15. Pelajar kelas IX SMP N 1 Mojosari ini berhasil membuat karya novel hingga ilustrasi tokoh-tokoh karakter dalam midnight train.
SEJAK pemerintah membuat kebijakan belajar di rumah di tengah pandemi Covid-19 membuat Arla, panggilan akrab Keisha Arlana Maydisha, punya banyak waktu mengasah skill-nya. Terbaru, dia membuat novel bergenre horor.
Novel dengan judul midnight train yang dibuatnya di tengah wabah korona ini bahkan cukup populer. Bagaimana tidak, dalam sebulan ini saja sudah ada 1.000 lebih pembaca. ’’Sampai saat ini sudah 1.060-an yang lihat,’’ ungkap Arla.
Warga Wisma Pungging Permai, Desa Tunggalpager, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto ini, mengaku, respons positif bagi pembaca ini sudah terlihat sejak novel yang menjadi karya perdananya ini diunggah di aplikasi Wattpad pada Jumat (27/3) lalu.
’’Jadi saya lihat, belum genap dua hari saya posting di Wattpad sudah ada 350 pembaca,’’ tuturnya. Wattpad adalah layanan situs website dan aplikasi telepon pintar asal Toronto, Kanada, yang memungkinkan penggunanya untuk membaca ataupun mengirimkan karya.
Baik dalam bentuk artikel, cerita pendek, novel, puisi, atau sejenisnya. Aplikasi tersebut kini dimanfaatkan Arla menjadi wadah mengunggah hasil karyanya. Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Wahyudi dan Novi Shanty ini, menjelaskan, novel ini bercerita soal petualangan empat bersaudara yang pergi ke kota Bandung untuk berlibur.
Yakni, Arlenee, Vertha, Axe, Sheryl. Namun, ketika hendak pulang ke Surabaya, mereka ketinggalan kereta. Karena sudah waktunya pulang, mereka menunggu di stasiun untuk kereta selanjutnya.
Awalnya perjalanan terasa baik-baik saja. Ketika mereka akan pulang, tak sengaja malah naik kereta hantu. Dalam perjalanannya, mereka diajak kembali ke masa lampau. Di mana ketika kereta api itu kali pertama berdinas.
’’Jadi mereka berempat diberi sensasi naik kereta di masa lampau. Mulai dari pengamen masuk ke dalam kereta dan lain-lain,’’ terangnya. Namun ternyata pada malam harinya kereta itu akan mengalami kecelakaan. Kondisi itu akhirnya membuat keempatnya sadar.
Mereka, Arlenee, Vertha, Axe, dan Sheryl, pun akhirnya memikirkan cara untuk kembali pulang ke zamannya dibantu Joxiane. Joxiane ini seorang pria yang kali pertama ditemui di kereta. ’’Di novel ini saya juga menyelipkan dua bahasa daerah. Yaitu, bahasa Jawa dan Sunda,’’ tuturnya.
Dalam novel juga dijelaskan keganjilan yang mereka rasakan saat naik kereta api itu. Mulai dari kereta bergerak sendiri tanpa masinis. Penumpang yang berwajah pucat. Gerbong kereta yang tua dengan lampu redup. Hingga kondektur dan polsuska tanpa kepala.
Arla mengaku, ide muncul satu hari sebelum pembuatan hingga akhirnya direalisasikan esok harinya. Karena masih perdana, tentu tak mudah untuk menyelesaikannya. Arla membutuhkan waktu seminggu. Yakni, 20-27 Maret. Novel ini dibuatnya di tengah kesibukannya menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan sekolah secara online.
Pembuatan novel bergenre horor ini tak lain dari hobinya yang memang sering membaca novel. ’’Akhirnya, saya punya ide dan khayalan yang saya susun menjadi novel midnight train,’’ tegasnya.
Dengan karya ini, tentu tak membuatnya puas begitu saja. Belakangan Arla juga sedang mencari inspirasi dan khayalan untuk membuat novel berikutnya. ’’Next mungkin saya akan buat cerita keempat bersaudara ini liburan ke Swedia. Dan saya masih belajar urban legend di Swedia,’’ papar gadis kelahiran 17 Mei 2005.
Prinsipnya, dirinya harus terus berkarya lantaran mempunyai banyak waktu luang di tengah pemerintah membuat kebijakan belajar di rumah untuk percepatan penanganan persebaran Covid-19. Selain novel, sejumlah tokoh karakter dalam midnight train juga berhasil dibuatnya.
’’Jadi cukup disayangkan kalau disia-siakan. Belajar di rumah lebih santai, tak kalah dengan di sekolah. Jadi harus produktif,’’ pungkasnya. (abi)
Editor : Moch. Chariris