Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Pendapatan Merosot Tajam, Pesimistis Dapat Bantuan

Moch. Chariris • Selasa, 28 April 2020 | 02:33 WIB
pendapatan-merosot-tajam-pesimistis-dapat-bantuan
pendapatan-merosot-tajam-pesimistis-dapat-bantuan

Pandemi Covid-19 membuat pusing kalangan sopir taksi online. Kebijakan social distancing dan physical distancing membuat orang ogah bepergian. Belum lagi apabila ada pemberlakuan jam malam dan karantina wilayah.


Barisan mobil tampak diparkir di pinggir Jalan Benteng Pancasila (Benpas) Kota Mojokerto. Orang umumnya sudah mahfum. Kendaraan keluaran beberapa tahun terakhir ini adalah kendaraan yang digunakan sebagai taksi online.


Para pengemudi taksi online biasa ngetem alias mangkal di daerah-daerah perniagaan. Mereka mendekati calon penumpang yang tengah berbelanja di mal. Atau calon penumpang dari tempat keramaian lain, seperti pasar, terminal, atau stasiun.


Sebulan terakhir ini, kondisi itu jauh berbeda. Meski banyak yang mangkal, tapi yang berangkat menarik penumpang amat jarang. ”Sudah jauh berbeda sejak ada wabah korona,” ujar Sugianto, pengemudi taksi online.


Pria yang tinggal di Perumahan Wates, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, ini menceritakan, semenjak adanya pandemi korona, produktivitasnya menurun. Biasanya setiap bulan dirinya bisa membawa pulang uang Rp 7 juta ke rumah.


”Kalau sekarang sudah merosot sampai 80 persen,” kata pengemudi dengan mobil Toyota Avanza bercat putih ini. Order hantaran taksi online-nya jauh berkurang. Biasanya dalam kondisi normal dia sudah dapat order sejak pagi hingga malam. Bahkan, ketika dia berpindah lokasi mangkal pun tetap dapat order.


”Kalau sekarang ini sulit. Belum tahu ini nanti bulan puasa bagaimana,” keluh pria 42 tahun ini. Dalam kondisi normal, bulan puasa biasanya jumlah order ikutan menurun. Akan tetapi, dirinya kerap membuat paket khusus Ramadan. Yaitu, pengantaran iktikaf di masjid-masjid terkenal.


”Kalau yang paket iktikaf malam itu biasa ke Masjid Namira Lamongan. Bisa juga ke Ampel (area Sunan Ampel) dan Masjid Al Akbar Surabaya,” beber dia. Paket Pamadan itu membuat dapurnya tetap mengepul. Karena paket jarak jauh membuat ongkos pengantarannya lebih mahal.


”Ya lumayan kalau dapat. Karena biasanya dapat tips tambahan juga dari pemesan,” imbuh Sugianto. Belum lagi, apabila ada order ke luar kota. Biasanya kalangan ibu-ibu yang meminta diantar berbelanja. Semisal, ke Surabaya karena banyak lokasi perbelanjaan.


”Saya banyak ambil yang jarak jauh. Karena dapat hasilnya lebih banyak,” tandasnya. Meski begitu, dirinya pesimistis selama Ramadan di tengah wabah pandemi korona ini paket jarak jauh banyak yang mengambil. Karena sekarang ini banyak masjid yang mengurangi akses peribadatan.


Selain itu, aktivitas ke luar dan dalam kota juga dibatasi. Praktis, sekarang ini dirinya mengambil penumpang di area dalam kota saja. Akan tetapi, yang memesan antar ke daerah luar kota.


”Kalau ambil yang pendek-pendek, nggak nyucuk sama bensinnya,” keluhnya. Disinggung adanya kebijakan physical distancing di sejumlah ruas jalan protokol Kota Mojokerto oleh pemerintah, dirinya mengaku pasrah. Karena akses jalan di ruas tersebut diperkirakan kuat bakal ditutup.


”Kalau ditutup 24 jam tentu kami tambah susah,” sambung dia. Beban pengemudi taksi online juga kian bertambah. Mengingat, kendaraan yang digunakan operasional adalah hasil kreditan. Turunnya income atau pendapatan membuat dirinya sulit membayar angsuran per bulan.


Untungnya ada kebijakan relaksasi kredit. Itu ia manfaatkan benar. Tapi sial seolah enggan pergi. ”Pengajuan relaksasi disetujui pusat. Tapi bank di daerah minta ongkos administrasi Rp 500 ribu,” keluhnya.


Sebulan diterpa badai Covid 19, pengemudi taksi online lainnya merasa hampir menyerah. Dirinya sekarang ini sering dalam satu hari hanya dapat order segelintir. ”Bahkan hari ini dari pagi sampai mau sore itu tidak ada order sama sekali,” jelas Iksan Karim, pengemudi taksi online asal Sidomulyo.


Pria berkacamata ini mengaku taksi online juga terimbas besar kebijakan social distancing dan physical distancing. Adanya kabar rencana pemberian bantuan langsung kepada warga terdampak Covid 19, disikapi pesimistis.


”Kalau saya sendiri pesimistis. Meski terdampak sangat besar, orang pasti melihatnya punya mobil. Bisa dicurigai kalau terima bantuan,” pungkasnya. 



 

Editor : Moch. Chariris
#covid-19