Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mbah Surodito Menamakan Taman Ayu sebelum Menjadi Tamiajeng

Moch. Chariris • Sabtu, 18 April 2020 | 06:55 WIB
mbah-surodito-menamakan-taman-ayu-sebelum-menjadi-tamiajeng
mbah-surodito-menamakan-taman-ayu-sebelum-menjadi-tamiajeng

DIKISAHKAN pada dahulu kala Raja Majapahit mengutus seorang tumenggung yang bernama Mbah Surodito untuk membuka hutan di lembah di antara Gunung Welirang dan Penanggungan.


Dan yang dipilih adalah sebuah wilayah relatif datar yang menghubungkan kedua lereng gunung tersebut. Lokasi dengan kondisi seperti ini adalah satu-satunya yang ada di wilayah Trawas. Mbah Surodito menamakannya dengan sebutan Taman Ayu.


Dikarenakan tempat ini nantinya akan digunakan sebagai tempat peristirahatan para selir raja. Sepeninggal Mbah Surodito, perkembangan Taman Ayu ini dilanjutkan oleh seorang ulama yang bernama Ki Gede Padusan yang juga babat alas membangun desa di wilayah Air Panas Padusan, Pacet.


Dia jugalah yang mengubah nama Taman Ayu menjadi Tamiajeng yang dikenal masyarakat hingga saat ini. Jalur yang digunakan Ki Gede Padusan menuju Tamiajeng melalui jalur kuno (Tamiajeng-Kemloko-Krapyak-Padusan).


Dia lantas membangun sebuah musala di sebelah Sumber Beji untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Tamiajeng dan sekitarnya. Letaknya yang berada tepat di tengah perkampungan warga serta memiliki debit air yang masih cukup tinggi menjadi alasan Ki Gede Padusan membangun surau atau musala di lokasi itu.


Saat ini bangunan musala Ki Gede Padusan memang sudah tidak ada. Namun, batu-batu andesit bekas penopang bangunannya masih tersisa di sekitar sumber Beji. (dwi/abi)

Editor : Moch. Chariris