Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Dirikan Markas dan Poliklinik Darurat di Desa Parengan

Moch. Chariris • Sabtu, 18 April 2020 | 03:51 WIB
dirikan-markas-dan-poliklinik-darurat-di-desa-parengan
dirikan-markas-dan-poliklinik-darurat-di-desa-parengan

PASCA jatuhnya Surabaya di tangan sekutu, Mojokerto menjadi salah satu garis pertahanan untuk mempertahankan kemerdekaan.


Selama masa revolusi itu, gerakan perjuangan dilakukan hampir seluruh lini masyarakat. Di antaranya Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Para pemuda itu menjadi garda terdepan untuk menahan gempuran lawan.


Sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq, mengatakan, TRIP merupakan anggota kesatuan yang anggotanya terdiri dari anak muda yang masih duduk di bangku sekolah. Pada awal revolusi 1945, markas dan asrama TRIP didirikan di Jalan Darmo, Surabaya.


Namun, setelah meletusnya pertempuran 10 November, para pejuang terpukul mundur dari Kota Pahlawan. Meski sempat bertahan di wilayah Gunung Sari, namun pertempuran sengit tak bisa lagi dibendung oleh pejuang.


”Anak-anak muda TRIP juga terpaksa meninggalkan Surabaya setelah tak mampu lagi menahan gempuran tentara Inggris,” terangnya. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, pada awalnya TRIP bersama para pejuang lainnya mundur ke kawasan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.


Akan tetapi, kedatangan mereka justru memicu konflik dengan Polisi Terntara Keamanan Rakyat (PTKR) yang bermarkas di Pacet. Untuk menghindari permasalahan tersebut, kata Yuhan, TRIP akhirnya pindah ke kawasan Desa Parengan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.


Dipilihnya kawasan di utara Sungai Brantas itu tak lain karena lokasinya dekat dengan markas divisi yang dipimpin Kolonel Sungkono. Kedatangan pejuang perebut kemerdekaan itu disambut hangat oleh pamong desa dan penduduk Parengan.


”Mereka diberi tempat menginap di rumah penduduk setempat,” tandas warga asal Desa Kedungsari, Kecamatan Kemlagi ini. Yuhan menyebutkan, berkat dukungan warga, TRIP yang dipimpin Mayor Isman itu kemudian mendirikan markas sendiri.


Markas tersebut dibangun cukup sederhana dengan bahan dari kayu. Pun demikian dengan asrama dan barak yang didirikan hanya menggunakan dinding gedeg atau anyaman bambu. ”Hampir seluruh perlengkapan markas terbuat dari bambu yang mudah didapat di desa itu,” paparnya.


Selain markas, TRIP juga mendirikan poliklinik. Fasilitas kesehatan itu segera beroperasi dengan peralatan medis yang cukup memadai. Bahkan, stok obat-obatan juga cukup digunakan selama dua tahun.


Oleh karena itu, di samping untuk memenuhi kebutuhan para anggota, sarana kesehatan itu juga melayani penduduk sekitar yang mengalami masalah kesehatan. 

Editor : Moch. Chariris