Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Ikfina-Gus Barra Bukan Duet Instan

Imron Arlado • Senin, 27 Januari 2020 | 14:30 WIB
ikfina-gus-barra-bukan-duet-instan
ikfina-gus-barra-bukan-duet-instan

PACET, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pilkada kian dekat. Sejumlah kandidat sudah mulai tebar pesona. Namun, berbeda dengan duet Ikfina Fahmawati-Muhammad Al Barra.


Hingga kini, keduanya tak kunjung muncul ke permukaan. Tak sedikit publik yang mempertanyakan keseriusan pasangan tersebut untuk mencalonkan di pilkada nanti. 


Kemarin, Jawa Pos Radar Mojokerto berkunjung ke kediaman KH Asep Saifuddin Chalim. Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Kembangbelor, Kecamatan Pacet, ini tak membantah pencalonan putranya itu.


Bahkan, ia menceritakan sangat detail proses ’’perjodohan’’ putra pertamanya dengan istri mantan Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa (MKP) tersebut. ’’Apalagi yang perlu diragukan?’’ katanya dengan tersenyum. 


Ditegaskan Kiai Asep, duet putranya dengan Gus Barra (sapaan akrab Muhammad Al Barra), bukan dilakukan dengan cara yang instan.


Melainkan sudah melalui proses yang sangat panjang. Selama dua bulan, keluarga besarnya, baru mengeluarkan keputusan. ’’Awalnya, memang hanya ingin konsentrasi ke pondok. Tidak perlu ikut-ikutan (running pilbup),’’ paparnya.  


Kiai Asep menegaskan, pencalonan Gus Barra bermula dari tawaran keluarga MKP untuk maju dan mendampingi Ikfina di pilbup 2020. Namun, ia pun tak bisa langsung mengeluarkan keputusan. 


Keluarga besarnya pun dimintai pertimbangan yang matang. ’’Pertama, saya ingin membahagiakan orang lain. Dan, Ikfina, saat ini sedang susah. Orang yang benar-benar sedang berduka,’’ tuturnya. 


Ikfina memang tengah tenggelam di dalam kesedihan. Tak hanya suaminya yang tengah bermasalah dengan hukum. Melainkan, putranya, Jiansyah Kamal Pasa, meninggal dunia akibat kecelakaan hebat di tol Solo-Ngawi beberapa waktu lalu. ’’Saya berniat memberikan pertolongan. Agar tak susah. Memberikan pertolongan itu akhlak terpuji,’’ tambah pengasuh pesantren peraih award the most favorit school in Indonesia tahun 2017 dan the best tutorial system in Indonesia di tahun 2018 ini. 


Alasan kedua, di mata Kiai Asep dan keluarganya, Ikfina adalah orang yang sangat baik dan pintar. Pun berasal dari keluarga terhormat di kampung halamannya, Ponorogo.


Ayahnya, merupakan tokoh agamis dan masuk di jajaran pengurus PC NU. Juga demikian dengan ibundanya yang tercatat sebagai tokoh Muslimat. Ketiga, asalkan yang dicalonkan adalah Gus Barra dan bukan putranya yang lain. 


Kiai yang memiliki sembilan anak ini menjelaskan, semula memang memunculkan Muhammad Habibur Rochman alias Gus Habib. Namun, keluarganya tak memberikan restu. ’’Tetapi, kalau Barra, sudah memiliki sejarah. Ibunya, saat melahirkan dia, pernah bermimpi melihat singa besar berkalungkan merah putih,’’ ungkapnya. 


Kalung merah putih yang dimaksudkan Kiai Asep, sebagai pertanda jika putranya akan memberikan konstribusi ke negeri ini. Memberikan sumbangsih pemikiran dan ide-ide briliannya untuk kemaslahatan umat. 


Alasan terakhir, terjunnya keluarga Kiai Asep di dunia politik sesuai dengan tujuan pendirian pesantren sejak 14 tahun silam.


Selain menciptakan ulama besar, pesantren ini bertujuan untuk menciptakan para pemimpin dunia dan pemimpin di bangsanya sendiri demi terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan. 


’’Kalau saya tidak mau (running pilkada), tentu akan mengkhianati tujuan dari pendirian pesantren ini. Yang jelas, pencalonan Ikfina dan anak saya, sudah kami pikirkan dengan sangat matang dan bukan dengan cara yang instan,’’ pungkas Kiai Asep.


Kiai Asep memastikan, dalam waktu dekat, pasangan ini akan secara resmi menggelar deklarasi dan muncul ke publik. Hal itu untuk menjawab keraguan sejumlah kalangan atas pencalonan tersebut.

Editor : Imron Arlado