Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Dia Tak Romantis Lagi

Moch. Chariris • Rabu, 31 Juli 2019 | 06:30 WIB
dia-tak-romantis-lagi
dia-tak-romantis-lagi

Mancing tombro nang Brantas


Oleh papat disambel tomat


Lanang ojo kemalan melas


Supoyo gak gampang sambat    


MAMPU menafkahi lahir dan batin menjadi syarat wajib untuk dipenuhi seorang lelaki saat membangun rumah tangga. Tidak hanya tercatat dalam norma, kewajiban itu juga tercatat dalam hukum agama. Andai saja gagal memenuhi, bukan tidak mungkin kehancuran rumah tangga senantiasa mengancam.


Seperti yang dialami pasangan muda Mukiyo (samaran) bersama Tulkiyem (samaran), warga Desa/Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Tulkiyem terpaksa mengakhiri keutuhan biduk keluarganya di Pengadilan Agama (PA) Mojokerto, setelah Mukiyo tak lagi menafkahinya selama hampir setahun belakangan.


Kondisi itu berbeda jauh jika dibanding awal-awal pernikahan tiga tahun silam. Di mana, suaminya kerap memberi perhatian lebih kepadanya. Mukiyo juga kerap memberinya barang-barang lebih tanpa harus meminta. Keromantisan itu yang sempat menjadi kebanggaan baginya.


’’Biyen kabeh-kabeh ditukokno. Gak onok sambate blas (Dulu semua-semua dibelikan. Tidak ada keluhan sama sekali),’’ katanya. Sayangnya, kebanggaan itu hanya bertahan sementara. Saat pernikahan menginjak usia 2 tahun, semua berubah. Mukiyo tak seperti dulu lagi. Jangankan memberinya kejutan, uang belanja untuk kebutuhan sehari-hari tak sepeser pun diterima Tulkiyem.


Padahal, dilihat dari pendapatannya selama bekerja, Mukiyo masih tak ada masalah. Entah mengapa, sikap romantis itu hilang seketika. Arah kehidupan keluarga pun ikut berubah menjadi tak menentu. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Tulkiyem tepaksa meminjam uang sana-sini.


Kondisi itupun dirasa cukup memalukan. Sempat terjadi perdebatan serius dengan Mukiyo soal nafkah sehari-hari. Namun, tak ada perubahan setitik pun. Hingga ia tepaksa memutukan untuk lebih baik bercerai ketimbang harus bertahan dengan hidup yang serba susah.


Sempat tak direstui saat ia meminta izin berpisah kepada orang tuanya. Namun, keputusan bercerai tetap menjadi jalan yang tepat baginya. Hingga ia mendaftarkan gugatan cerai ke PA Mojokerto dua bulan lalu.


’’Nek wong tuwo ngongkon mempertimbangno disek. Tapi, wes kadung mangkel (Kalau orang tua menyuruh mempertimbangkan dulu. Tapi, sudah terlanjur sakit hati),’’ tandasnya. 

Editor : Moch. Chariris