Hobi terkadang mampu mengantarakan kesuksesan seseorang dalam membuka lahan pekerjaan. Ngataji, 55, salah satunya. Perajin guci lukis berbahan tanah liat ini sukses menggaet pesanan dari luar negeri berkat karyanya. Di antara buyer itu datang dari Jepang, Australia dan Amerika.
NAMANYA Ngataji. Usianya sudah menginjak 55 tahun. Dia tinggal di Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Seorang perajin guci lukis menggunakan bahan dasar dari tanah liat atau lempung. Dia sudah eksis sejak dari tahun 1992 hingga sekarang.
Cak Aji begitu dia akrab disapa menceritakan, awal mulai berbisnis berangkat dari hobinya sejak dari masih berumur 10 tahun. Saat itu, dirinya sering menjadi juara lomba rajinan guci dan melukis di sekolahnya. Dari situlah kelebihannya terus diasah dengan membuka usaha galeri guci lukis sampai sekarang.
”Kalau dulu bikin satu saja sangat susah. Sekarang sudah enteng sekali,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto. Dari hasil keuletanya itu, guci lukis karnya sekarang banyak diminati. Tidak hanya dari kalangan lokal maupun dalam negeri.
Belakangan ini, banyak buyer luar negeri kepincut dengan karya Cak Aji. Mereka datang dari negeri sakura, Jepang, dan negeri adidaya Amerika Serikat. Termasuk pembeli dari Australia.
Selama ini, dia mematok karya guji lukisnya dengan harga bervariatif. Dari yang dibanderol Rp 100 ribu hingga kelas atas yang mencapai Rp 2 juta untuk satu karya. ”Karena melukisnya susah, dan tanah lempungnya cukup susah nyarinya. Harus ke Malang dulu,’’ jelasnya.
Memang, perjalanan bisnis gucinya tidak selalu mulus yang diperkirakan. Pada tahun 2011 lalu, dia pernah jatuh bangkrut hingga untuk mencari makan pun harus ngutang kesana-kemari.
Setelah semua pendapatan dan hasil dari usaha guci lukisnya tersebut terkuras untuk membiayai istri tercintanya yang didagnosa menderita penyakit kanker. Hingga sang istri meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakitnya.
”Karena sering masuk rumah sakit, dan obatnya sangat mahal,’’ lanjutnya. Cak Aji pun tak mau kalah dengan keadaan. Dia menganggap semua itu adalah ujian yang harus dihadapi.
Cak Aji kembali bangkit. Sampai akhirnya bisnis yang dijalaninya kini menjadi perhatian konsumen dalam dan luar negeri. ”Masih ngirim ke luar negeri walapun tidak sesering dulu,’’ ujarnya. (ras)
Editor : Moch. Chariris