Perjuangan Muhammad Febryan Syahputra untuk melawan penyakit tumor mata berakhir dengan duka. Balita berusia 3,5 tahun itu telah dipanggil Yang Maha Kuasa karena penyakit kanker mata yang dialaminya sejak kecil itu.
SUASANA duka menyelimuti rumah keluarga Mochamad Yunus dan Denis Mega Kajatiputri di Dusun Kangkungan, Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Pasangan suami-istri itu harus merelakan kepergian anak semata wayangnya, M. Febryan Syahputra untuk selamanya.
Balita yang akrab dipanggil Bryan itu meninggal dunia pada Rabu (4/7). Bryan menghembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan penyakit retinablastoma atau kanker mata pada anak yang dialami sejak usia empat bulan.
Yunus menceritakan, dirinya tidak memiliki firasat apa pun sebelum ditinggalkan oleh putra pertamanya itu. Sebab, selama sepekan terakhir, kondisi kesehatan Febry telah menunjukkan peningkatan yang lebih baik. ”Benjolannya sudah mulai mengecil. Rencananya akan kami bawa ke rumah sakit untuk berobat,” ujarnya.
Namun, belum sempat untuk dilakukan tindakan medis, ternyata Tuhan berkehendak lain. Yunus dan Denis masih terlihat terpukul kehilangan buah hatinya. Namun, segala usaha demi kesembuhan putranya telah dilakukan. Kini, dia mengaku telah ikhlas setelah mengantarkan balita berusia 3,5 tahun itu menuju tempat persitirahatan terakhirnya.
Yunus mengatakan, Selasa (3/7) atau sehari sebelum meninggal, almarhum Febry masih terlihat ceria seperti hari biasanya. Namun, sekitar pukul 23.45, kondisi kesehatannya tiba-tiba drop. Suhu tubuhnya seketika menjadi dingin. ”Dia (Ferbry, Red) bilang kalau kedinginan, sempat saya selimuti,” paparnya.
Menurutnya, Febry mengalami kondisi tersebut setelah luka yang ada di bejolannya mata kanannya mengalami pendarahan. Melihat kondisinya yang terus menurun, Yunus akhirnya memutuskan untuk melarikan ke salah satu rumah sakit swasta di Kota Mojokerto.
Setelah sempat dilakukan penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), Febry kemudian disarankan untuk menjalani rawat inap. Belum sempat untuk pindah ke ruangan rawat inap, Rabu (4/7) sekitar pukul 1.45 dini hari, Febry terlihat tak bergerak.
Setelah meminta petugas medis untuk memeriksa, denyut nadi buah hatinya dinyatakan telah tiada. Dia pun tak kuasa menahan membendung air mata. Hingga akhirnya jenazah anak kelahiran 2 Februari 2015 itu dipulangkan ke rumah duka di rumah kakeknya di Dusun Kangkungan, Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar.
Sementara itu, Denis, ibunda Febry mengatakan, anaknya memang sempat mengeluh sakit pada bagian benjolan di mata kanannya. Padahal, Febry jarang mengeluhkan sakitnya. Meski demikian, buah hatinya tidak menujukkan tanda-tanda keanehan apa pun.
Yang tak bisa dilupakan adalah pesan terakhir yang disampaikan kepadanya. Denis mengatakan, sebelum menutup mata, Febry ingin terus disayang oleh kedua orang tuanya. Tak hanya itu, putranya juga meminta pelukan hangat darinya. ”Padahal tidak pernah dia (Febry) tidak pernah minta pelukan seperti itu,” ujarnya.
Namun, Denis tak menyangka bahwa pelukan tersebut merupakan permintaan terakhirnya. Setelah disemayamkan sekitar pukul 07.00 (4/7) kemarin, sejumlah keluarga, kerabat, serta teman relawan masih silih berganti untuk bertakziah.
Ya, selama mengalami sakit, tak jarang donatur dan beberapa relawan yang terketuk hati untuk membantu biaya pengobatan Febry. Tak terkecuali bantuan juga datang dari pembaca Jawa Pos Radar Mojokerto. Denis mengaku mengucapkan banyak terima kasih dan meminta maaf tidak bisa membalas apa-apa.
Dia hanya meminta doa agar Febry bisa diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. ”Kami sangat berterimakasih atas doa dan bantuan yang diberikan kepada Febry. Keluarga sudah berusaha untuk kesembuhannya, tapi Allah lebih sayang pada Febry,” pungkasnya.
Editor : Moch. Chariris