MOJOKERTO Menjadi salah satu wilayah yang memiliki kekayaan sumber air jernih yang cukup melimpah. Selain itu, air yang memancar dari sumber mata air juga memiliki kualitas yang cukup baik, khususnya yang berada di wilayah pegunungan.
Maka tak heran jika kekayaan sumber daya alam tersebut telah lama dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat. Potensi tersebutlah yang kemudian dimanfaatkan pemerintah kolonial Belanda. Kebutuhan air menjadi prioritas pada zaman penjajahan. Bahkan, untuk memasok kebutuhan air minum warga Kota Surabaya, pemerintah Belanda membangun leiding atau jaringan pipa air dari wilayah Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Sejarawan asal Mojokerto, Aiyuhanafiq, menceritakan, sekitar Agustus 1925, Ir Freytag, direktur Gewestelijke Werken atau Dinas Pekerjaan Umum Daerah, turun ke Mojokerto. Kehadirannya untuk memastikan persiapan pembuatan jaringan leiding untuk penduduk Kota Surabaya dan sekitarnya.
Pembuatan saluran air itu untuk memggantikan instalasi penjernihan air di Ngagel, Surabaya. ’’Saat itu, kualitas air yang diambil dari Sungai Brantas dianggap kurang higienis,’’ paparnya.
Untuk memberi air minum dengan kualitas tinggi, akhirnya dipilihlah sumber mata air di Djoebel atau Jubel yang berada di Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet. Diperkirakan sumber yang menghasilkan air minum kualitas tinggi itu memiliki debit 50-100 meter kubik per detik.
Jaringan pipa yang dibuat diperkirakan mencapai panjang hingga 160 kilometer. Pipa yang digunakan dibuat oleh perusahaan baja Mannesman. Pipa yang dipesan khusus dengan ketahanan terhadap kerosi atau pengkaratan besi.
Pria yang akrab disapa Yuhan itu, mengatakan, jaringan pipa tersebut tak hanya menuju Surabaya, percabangannya ada yang mengarah ke Mojokerto bahkan hingga ke wilayah Jombang. Beberapa pabrik gula yang ada di sekitar jaringan pipa juga meminta pasokan air dari Jubel. Karena banyaknya pencabangan itu, maka pengerjaan pipa tergolong rumit.
Dia memaparkan, pada setiap konsumen yang bersedia membayar dipasang regulator otomatis dan meteran air. Ada juga katup pengaman untuk menghindari kebocoran pipa ke rumah konsumen. ’’Selain itu, di beberapa tempat didirikan watertoren atau menara air untuk menjaga tekanan air bisa mengalir merata pada semua konsumen,’’ ujarnya.
Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini menjelaskan, menara air utama tersebut di Mojosari yang dibuat setinggi 12 meter. Menara air itu merupakan stasiun pemeriksaan yang memastikan tekanannya pada angka 10 atmosfir (atm).
Jaringan air minum Jubel diresmikan pada tahun 1927, atau dua tahun sejak direncanakan. Dilaporkan, anggaran yang dihabiskan sebesar 1.500.000 gulden. ’’Biaya sebesar itu ditanggung bersama antara Pemerintah Provinsi Oost Java dan pemerintah daerah yang mendapatkan manfaat dari jaringan air minumnya,’’ paparnya.
Tandon besar dibuat menampung air langsung dari sumber Jubel. Tandon tersebut tertutup rapat untuk menghindari orang yang ingin mencemari air minum. Untuk kebutuhan tandon tersebut dihabiskan 120 sak semen.
Untuk menyalurkan air dari Jubel yang disalurkan untuk warga Kota Mojokerto dibuat sebuah menara air setinggi 18 meter. Menara yang terlihat terlihat kukuh berdiri tidak jauh dari Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto. Pada puncak menara terdapat tandon air dengan kapasitas 250 meter kubik.
Yuhan menyatakan, wabah kolera dan cacar yang melanda pada awal tahun 1900-an mendasari pembuatan instalasi air minum dari Sumber Jubel. Sehingga, pemerintahan kolonial Belanda berupaya untuk menjaga kesehatan warganya. Tampaknya air minum yang semula diambil dari air sungai dianggap telah mengalami pencemaran. ’’Karena harus membayar, maka pada saat itu hanya orang kaya yang bisa menikmati segarnya air dari pegunungan Pacet,’’ tandas Yuhan.
Editor : Moch. Chariris