Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

4 Jam Jarak Tempuh ke Sekolah, Kaget di Tatapan Pertama

Moch. Chariris • Rabu, 30 Agustus 2017 | 21:00 WIB
4-jam-jarak-tempuh-ke-sekolah-kaget-di-tatapan-pertama
4-jam-jarak-tempuh-ke-sekolah-kaget-di-tatapan-pertama



MENGABDIKAN diri sebagai pendidik di daerah pedalaman bukanlah pekerjaan gampang. Butuh perjuangan dan tekad yang kuat demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pengalaman unik nan lucu pun menjadi hal yang tak bisa dielakkan.


’Perkenalkan, nama saya Sustenes, saya lahir tahun 1999 dan cita-cita saya ingin menjadi tukang ojek’’. Kalimat itulah yang langsung terdengar ditelinga Yuyun Perwira tatkala baru selangkah memasuki ruang kelas VIII SMP tempatnya mengajar. Sustenes, salah satu siswa di kelas itu mencoba memperkenalkan diri Yuyun dengan kalimat yang mengundang tawa seisi ruang kelas.


Selain dia dan 14 siswa lain, tampak pula seorang guru yang memiliki penampilan serumpun. Slamet Suripto namanya. Sebutan yang tak asing saat Yuyun berada di tanah kelahirannya, di Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.


Akan tetapi, ejaan nama seperti itu begitu jarang dan terdengar di tempatnya mengabdi sekarang. Namun, Slamet Suripto justru tampak akrab bersama puluhan siswa dan guru lainnya meski memiliki perbedaan fisik dan logat bahasa.


Ya, Yuyun memutuskan diri mengabdi sebagai pendidik di pedalaman timur Indonesia, tepatnya di SMPN 27 Kabupaten Sorong, Papua Barat sejak sebulan lalu. Meski berasal dari suku Jawa, namun sambutan warga asli Papua di sana cukup diterima Yuyun dengan hangat tanpa ada rasa canggung dan grogi sedikitpun.


Akan tetapi, sesi perkenalan itu dirasakan Yuyun justru berbeda saat pertama kali memberikan materi ajar. Dia menceritakan, siswa-siswi yang rata-rata penduduk pedalaman hutan itu selalu memandangnya dengan tatapan misterius. Seolah ada yang salah dari dia saat menyampaikan materi di depan kelas.


Sehingga, beberapa kali dia harus menyela pembicaraan untuk mengevaluasi apakah ada yang salah dari ucapannya. Namun, setelah diamati beberapa jam, pemandangan seperti itu ternyata bukan hal yang membahayakan bagi dirinya.


Pemandangan seperti justru mencerminkan keseriusan siswa-siswi dalam memperhatikan setiap ajaran dari guru yang berbeda logat bicara. Sebab, kelewatan sedikit saja, siswa-siswi ini merasa rugi dan tak akan bisa mengulanginya lagi. ’’Kalau menatap guru asing memang seperti kayak mencurigai orang. Tapi, aslinya tidak seperti itu. Mereka sebenarnya memperhatikan serisu biar nggak ketinggalan apa yang disampaikan guru,’’ terang Yuyun.


Tak hanya itu, perbedaan lain yang ditemui antara mengajar di Jawa dengan di Papua tak lain adalah kontinuitas kegiatan belajar mengajar itu sendiri. Seperti ungkapannya, daerah pedalaman adalah kawasan yang sulit dijangkau oleh moda transportasi.


Sehingga memengaruhi tingkat kehadiran siswa dan guru. Betapa tidak, untuk mencapai ke sekolah, dia harus menempuh waktu tak kurang dari 4 jam perjalanan dari pusat kota. Yakni, 1 jam jalur darat menggunakan angkot dan 3 jam jalur sungai menggunakan sampan atau perahu.


Kondisi itu yang memengaruhi niat siswa dan guru untuk bersekolah. ’’Proses belajar-mengajar tidak setiap hari, tergantung dari kedatangan siswa dan gurunya. Kadang kalau nggak ada angkot ya nggak bisa ke sekolah,’’ imbuhnya.


Nah, untuk mengatasi hal itu, pihak sekolah kini tengah membangun asrama untuk persinggahan para guru. Dari 6 orang guru, 4 di antaranya memilih tinggal di asrama. Sedangkan 2 lainnya memilih pulang. Mereka yang pualng adalah guru asli pedalaman.


Sedangkan untuk siswa, Yuyun memprediksi jumlah di sekolah yang dia tempati merupakan yang terbanyak dari sekolah pedalaman lain. Yakni, kurang lebih 50 anak. Terdiri dari 17 siswa kelas VII, 15 siswa di kelas VIII, dan 13 siswa di kelas IX. Dia sendiri kini ditugasi untuk memberikan materi pada mata pelajaran PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) dan TIK (Teknik Informasi Dan Komputer).

Editor : Moch. Chariris