MOHAMMAD Ilham Djoko Nugroho terpilih sebagai aktor terbaik di ajang Festival Teater Pelajar Mojokerto. Juga, sebagai penyaji unggulan sekaligus sutradara terbaik. Ingin meniru jejak guru yang dianggap layaknya ibu sendiri.
Banyak talenta-talenta muda bertebaran ketika digelar Festival Teater Pelajar Mojokerto digelar. Praktis, para pelajar penggila seni teater tumplek-blek di ajang tersebut. Salah satunya, Mohamad Ilham Djoko Nugroho alias Nanang yang tinggal di Jalan Mayjen Sungkono Kota Mojokerto.
Siswa kelas X salah satu SMAN di Kabupaten Mojokerto ini dapat predikat aktor terbaik, penyaji unggulan, dan sutradara terbaik. Terbilang wah dibanding para juara lainnya. Dibalik raihan itu, dia rupanya sudah lama mengenal kesenian teater.
Nanang mengangkat judul ’’Dilarang Nyanyi di Kamar Mandi’’. Sedikitnya 15 temannya dilibatkan dalam lakon tersebut. Naskah dan penyutradaan dilakukannya sendiri. ’’Idenya saya dapat dari internet. Lalu, saya improvisasi,’’ cerita pelajar kelas 11 ini.
Menghadapi festival tersebut, dirinya sempat kebingungan. Karena, alokasi waktu untuk membuat susunan cerita dan latihan terbilang mepet. Untungnya, dia banyak mendapat dukungan dari seniman teater lainnya. ’’Latihan sebanyak tujuh kali, mulai pulang sekolah sampai Isya,’’ bebernya.
Anak dari (Alm) Sugeng Djoko Chisworo-Mari Sudiastati ini, mengatakan, sudah sejak lama mengenal teater. Dia sejak duduk di bangku sekolah dasar merasa penasaran dengan kesenian satu ini. ’’Kelas III SD mulai suka dan ikut berlatih teater,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin.
Pelajar yang biasa disapa Nanang ini, menceritakan, teater baginya tidak hanya tempat berproses. Tapi, juga tempat untuk melepaskan uneg-unegnya yang kadang tidak keluar melalui bidang lain. ’’Di teater saya dapat banyak teman, menantang, dan asyik. Bisa sayang sama diri sendiri nambah percaya diri sekaligus bonus bisa curhat,’’ kata dia.
Ketika duduk di bangku SMP, Nanang mengaku melanjutkan hobinya itu. Terlebih, di SMPN 1 Kota Mojokerto rupanya ditunjuk sebagai PPST (Pusat Pelestarian Seni Tradisi). ’’Di situ saya banyak berlatih teater dan ludruk. Juga mengikuti banyak lomba. Pernah juara II tingkat Jawa TImur dengan lakon Wirasena Mbalela,’’ sambung anak kedua ini.
Ketika itu, dia banyak pula terlibat dengan aneka pementasan di sekolah. Pada acara wisuda atau acara tertentu, dia tampil bersama grup kesenian sekolah. ’’Senang juga kalau diapresiasi penonton dan teman-teman,’’ ucapnya.
Nanang juga aktif kegiatan kesenian lainnya. Dia mengaku punya grup musik sendiri. Selain itu, Nanang juga penyuka seni rupa dan pernah beraksi dalam melukis on the spot bersama perupa Mojokerto.
Di tingkat SMA, dia berkenalan dengan kesenian tradisional ludruk. Dalam beberapa kesempatan dia diajak tampil di tingkat Jawa Timur hingga ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). ’’Ketika SMA diajak main bersama tim ludruk lintas generasi. Main di Jawa TImur dan TMII. Bangga juga bisa main ludruk dengan seniman ludruk betulan,’’ sambung Nanang.
Sebelumnya, ketika masuk ke tingkat SMA, dia punya cerita menarik. Bahwasannya, keterampilan dan kemampuannya berkesenian rupanya membawanya masuk SMA Negeri melalui jalur prestasi. Bekal prestasi seni tradisi dan teater ketika masih SMP, dibawanya mendaftar jalur prestasi.
Kala penerimaan siswa baru, dia bermodal monolog saat tes penerimaan. ’’Sempat bingung. Tapi, setelah dapat masukan dari guru teater, akhirnya dapat naskah bagus. Dan bisa diterima masuk sekolah,’’ kenangnya.
Peran guru teaternya pun terbilang penting. Nanang mengaku banyak belajar dari tempaan gurunya. Karena, sejak di tingkat SMP dia sudah diajari oleh gurunya Mijil Pawestri. ’’Orangnya keras, tapi sudah saya anggap seperti ibu sendiri. Hehehe,’’ selorohnya.
Diketahui, Mijil Pawetri merupakan sutradara teater. Mei lalu, dia membawa grup ludruk remaja Kota Mojokerto menjadi yang terbaik dalam ajang Lomba Teater Tradisi tingkat Nasional. Tahun depan, grup tersebut didapuk mewakili Indonesia untuk tampil di tingkat ASEAN.
Editor : Moch. Chariris