Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sembilan Tugu Perjuangan, Oh Nasibmu Kini...

Moch. Chariris • Kamis, 17 Agustus 2017 | 01:40 WIB
sembilan-tugu-perjuangan-oh-nasibmu-kini
sembilan-tugu-perjuangan-oh-nasibmu-kini



KEBERADAAN tugu atau monumen yang berdiri tegak di suatu daerah tertentu, menjadi pertanda bahwa daerah tersebut pernah terjadi peristiwa yang sangat penting oleh suatu kelompok sosial. Bahkan, tak jarang menjadi bagian dari peringatan kejadian pada masa lalu. Sekelompok orang sengaja merawat tugu atau monumen tersebut agar kenangan dan sejarah tak hilang begitu saja dimakan waktu.


Gambaran itu yang sempat dialami puluhan tugu perjuangan yang tersebar di sejumlah wilayah di Kota dan Kabupaten Mojokerto. Sejak Orde Baru, atau antara tahun 1970 sampai 1990-an, tugu-tugu tersebut sengaja dibangun oleh pemerintah sebagai simbol peringatan. Di mana di tempat itu pernah terjadi pertempuran hebat dalam merebut kedaulatan wilayah. Terutama era Agresi Militer kedua atau pasca Indonesia Merdeka tahun 1945.


Akan tetapi, pasca pendiriannya, tidak ditemukan adanya tindak lanjut atau perawatan atas tugu tersebut. Hingga akhirnya beberapa diantaranya rusak sampai hilang entah ke mana tanpa ada tanggung jawab sama sekali. Kenyataan ini menjadi bukti betapa heroisme perjuangan masa lalu kurang bisa diterima oleh generasi penerus masa kini.


Dari hasil pemetaan Jawa Pos Radar Mojokerto, tak kurang terdapat sembilan tugu yang berdiri untuk memperingati hasil perjuangan bangsa Indonesia masa lampau. Diantaranya, Tugu Padusan yang berada di simpang tiga Desa Padusan, Kecamatan Pacet. Di lokasi tersebut dulu pernah terjadi pertempuran hebat antara tentara regu dari Kapten Muhadi untuk menyerang belanda yang menduduki kawasan Pacet pada tahun 1948.


Lalu Tugu Gumeng yang berada di Desa Gumeng. Desa paling ujung selatan Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Di lokasi tersebut berdiri bangunan seperti peluru dan topi baja yang di bawahnya terdapat prasasti bertuliskan ’’Di sini pernah terjadi perang melawan penjajah Belanda yang dipimpin oleh Danki Kapten Sunaryo.


Kemudian tiga tugu di kawasan Kutorejo-Dlanggu yang saling berkaitan. Yakni, monumen Macan Putih yang sekarang berubah menjadi monumen Batu di Desa Kutorejo. Lalu monumen Tjipto yang terletak di depan Balai Desa Kepuharum, Kecamatan Kutorejo. Dan satu tugu lain yakni Tugu Dlanggu yang berada tepat di simpang tiga Pasar Dlanggu. Ketiganya merupakan tugu peringatan atas pertempuran Batalyon Bambang Yuwono dan Batalyon Tjipto dikepung oleh tentara Belanda pada tahun 1947.


Kemudian monumen Sedati, tepatnya di simpang tiga menuju Ngoro Industri Persada (NIP) di Kecamatan Ngoro. Di lokasi itu, kedudukan pasukan republik yang tergabung dalam Pasukan Komando Hayam Wuruk terjepit hingga terjadi pertempuran melawan Belanda mulai pagi hingga malam pada tanggal 12 Pebruari 1949.


Kemudian Tugu Djarot dan Tugu Pulorejo yang berdiri di Desa Randegan dan Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong. Dalam ceritanya, pada Juni 1946, Batalyon Djarot menghadang laju serangan Nica yang menyebabkan seorang komandan kompinya gugur. Tak hanya pertempurannya, tugu ini juga menjadi cikal bakal berdirinya Yonif Para Raider Mayangkara 503 Mojosari yang mengambil dari nama Mayangkara. Nama itu tak lain adalah nama kuda putih yang ditunggangi Djarot.


Lalu terakhir adalah Tugu Pahlawan yang berada di dalam kompleks Makam Pahlawan, Kota Mojokerto. Tugu tersebut dibangun sebagai tanda atas gugurnya sejumlah pahlawan perjuangan yang dikubur di kompleks makam tersebut.


Menanggapi hal itu, salah satu sejarawan lokal Mojokerto, Ayuhan Nafiq, mengakui, Mojokerto memang tak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan era kemerdekaan. Namun suara heroik para pejuang dulu kini tak lagi terdengar nyaring. Terbukti, dari sembilan tugu dan monumen tersebut kurang terawat hingga banyak yang rusak. Khususnya tiga tugu di kawasan Kutorejo dan Dlanggu yang cenderung seadanya dan bahkan dibiarkan begitu saja. ’’Yang di pertigaan Dlanggu itu kan roboh karena ditabrak mobil. Kemudian yang di Kutorejo sudah diganti dengan tugu bentuk batu,’’ terangnya.


Yuhan, sapaan arkabnya, cukup menyayangkan atas rusaknya sejumlah bangunan tugu. Pasalnya, kerusakan itu bukan disebabkan karena faktor usia atau kurang perawatan. Justru karena ulah orang tak bertanggung jawab yang tidak tahu nilai sejarah keberadaan tugu tersebut.


Sebab, selain sebagai simbol, keberadaan tugu juga bisa menjadi pengingat dan pemantik semangat di masa yang akan datang tentang cara perjuangan yang diraih para pendahulu. ’’Malah ada yang sudah hilang. Yakni, Tugu Brangkal yang digunakan sebagai simbol gugurnya 7 polisi Brimob di serangan tanggal 17 maret 1947. Harusnya itu yang masih ada harus mendapat perawatan lebih dari dinas terkait,’’ pungkasnya.

Editor : Moch. Chariris