Derita masih dirasakan warga Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro. Kekeringan dan krisis air bersih hingga saat ini masih terus terjadi. Setiap hari mereka harus menempuh jarak jauh demi mendapatkan setetes air bersih. Bahkan rela membeli Rp 3 ribu per jeriken.
SIANG itu, saat truk tangki tiba, para ibu rumah tangga langsung berdatangan sembari membawa jeriken dan ember. Ketersediaan tempat menyimpan air ini seolah sudah menjadi rutinitas mereka setiap hari. Begitu ada kiriman air bersih, mereka lantas antre begiliran mendapatkan air bersih. Dan ini sudah berlangsung sejak lama.
Ya, kondisi itu masih dirasakan warga Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Setiap musim kemarau tiba, desa yang letak geografisnya di lereng pegunungan selalu kesulitan mendapatkan air bersih. ’’Kami hanya mengandalkan bantuan air bersih saja,’’ ujar Yulianingsih, 24, salah satu warga Kunjorowesi.
Meski bantuan air bersih terus mengalir, namun dia bersama ribuan warga belum bisa bernapas lega. Desanya selalu diselimuti derita kekeringan berkepanjangan. Bantuan air bersih pun hanya bertahan sesaat. ’’Setelah itu habis lagi,’’ tegasnya.
Dia menceritakan, saat musim kemarau tiba, air bersih selalu menjadi hal yang langka. Belum ada solusi permanen dari pemerintah terkait ketersediaan air bersih. Pemerintah belum juga menerjukan bantuan air bersih ke lokasi secara riil dan berkelanjutan. ’’Jangankan bantuan air bersih, dua tandon air yang pernah dijanjikan BPBD saja sampai sekarang belum ada realisasinya,’’ tambah Yadi, 40, warga lain.
Menurutnya, perhatian Pemkab Mojokerto bagi warga memang masih menjadi angin lalu. Meski bertahun-tahun, kekeringan terjadi di Desa Kunjorowesi belum ada penanggulangan serius. ’’Sempat kami laporkan. Tapi, katanya kekurangan air bersih di sini, dianggap bukan bencana,’’ sesalnya.
Untuk itu, dia menyayangkan sikap pemkab yang belum memberikan solusi permanen. Beruntung, masih ada kendaraan milik PMI Kabupaten Mojokerto yang stand by untuk dipinjamkan secara suka rela bagi warga yang mengangkut air bersih.
’’Sehari tiga-empat kali saya drop air. Itu pun secara swadaya,’’ tutur Yadi. Menurutnya, akibat minimnya ketersediaan air bersih, tak jarang warga memilih membeli dengan Rp 3 ribu per jeriken. ’’Padahal, satu KK minimal butuh 6 jeriken. Belum lagi mereka yang punya hewan ternak,’’ imbuhnya.
Editor : Moch. Chariris