Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Ribuan Ton Gula di PG Gempolkrep Mojokerto Tak Laku Lelang, APTR Beberapa Alasannya

Khudori Aliandu • 2025-08-14 15:40:00
MENGGUNUNG: General Manager PT SGN PG Gempolkrep Edy Purnomo dan Ketua APTRI Gempolkrep Mubin menunjukkan tumpukan gula petani di musim gilang tahun 2025.
MENGGUNUNG: General Manager PT SGN PG Gempolkrep Edy Purnomo dan Ketua APTRI Gempolkrep Mubin menunjukkan tumpukan gula petani di musim gilang tahun 2025.

KABUPATEN - Sebanyak 7.200 ton gula hasil panen petani di Kabupaten Mojokerto tak laku di pasaran. Sudah satu bulan ini, ribuan ton gula itu menumpuk di gudang PT. Sinergi Gula Nusantara (SGN) PG Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Pada musim panen tebu tahun ini para petani tebu di bawah naungan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) belum bisa menikmati manisnya tebu. Itu lantaran produk gula yang dihasilkan tidak laku di jual di pasaran. Salah satunya, terjadi rembesan gula rafinasi beredar di pasaran dengan harga lebih murah. Sehingga petani mengharapkan pemerintah bisa membeli sesuai harga acuan pembelian (hap) Rp. 14.500 /kg sesuai harga acuan dari bapanas.

Di sisi lain, terjadi rembesan gula rafinasi beredar di pasaran dengan harga lebih murah. ’’Sudah satu bulan (empat periode) ini lelang gula tebu milik petani, tetapi tidak ada yang menawar,’’ ungkap Ketua APTRI Gempolkrep Mubin, kemarin.

Benar saja, sesuai pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto di lapangan, gula petani nampak menumpuk di gudang PG Gempolkrep. Menurutnya sudah empat minggu ini gula petani di bawah APTRI tidak ada laku terjual. Kondisi ini tentu membuat para petani menjerit dan kian terpuruk. ’’Kalau tidak laku-laku seperti ini akhirnya operasional petani untuk melanjutkan panen dan tanam baru juga mandek,’’ sesalnya.

Tak urung, situasi ini mengharuskan pemerintah gerak cepat. Di tengah tuntutan bagi para petani menggenjot produktivitas menuju swasembada gula nasional, faktanya petani malah dibuat buntung akibat kesusahan menjual hasil produknya. ’’Situasi seperti ini malah membuat petani buntung, tidak untung,’’ tandasnya.

Tak kunjung lakunya gula petani ini dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya, saat petani masuki musim panen, diduga ada rembesan gula rafinasi yang beredar di pasaran dengan harga lebih murah. Padahal gula hasil impor itu seharusnya untuk pabrik mamin. ’’Saat ini APTRI mendorong pemerintah mencari solusi agar petani bisa semringah dan menikmati manisnya tebu. Jadi, kalau gula petani tidak laku-laku, petani akan merugi,’’ pungkasnya.

General Manager PT SGN PG Gempolkrep Edy Purnomo membenarkan jika gula petani sudah sebulan ini menumpuk di gudang. Itu setelah, tiap periode lelang yang digelar tiap minggu secara nasional tidak ada yang menawar alias tidak laku. ’’Para investor tidak berani menawar sesuai HAP Rp 14.500 per kilogram, karena di pasaran ada gula yang bahkan harganya di bawah itu,’’ ungkapnya.

Berbagai solusi saat ini tengah digodok oleh pemerintah pusat agar gula petani ini bisa terserap pasar. Hanya saja, hingga kini memang masih butuh waktu. Sementara itu, para petani tebu butuh modal untuk operasional. ’’Gula petani yang menumpuk di gudang kami ada sebanyak 7.200 ton. Ini jumlah akumulasi untuk empat periode (periode 9-12),’’ tegasnya. (ori/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#kabupaten mojokerto #gula petani #PT SGN #tak laku dilelang #PG Gempolkrep #ribuan ton gula