Dharma Sang Garudheya, Menghidupkan sang Legenda

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 06:04 WIB
KLASIKAL: Penampilan memukau pemeran drama Dharma Sang Garudheya dalam seremonial peletakan batu pertama revitalisasi Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Minggu (13/9). (Sofan Kurniawan/JPRM)
KLASIKAL: Penampilan memukau pemeran drama Dharma Sang Garudheya dalam seremonial peletakan batu pertama revitalisasi Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Minggu (13/9). (Sofan Kurniawan/JPRM)

SEMENTARA itu, kepak Garudheya seolah membawa penonton menembus batas waktu. Legenda tentang burung Garuda, perjuangan seorang anak membebaskan ibunya dan pencarian Tirta Amarta, hadir di tengah kemegahan kawasan Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Minggu (13/9). Pertunjukan tari drama Garudheya ini menjadi salah satu sajian dalam acara peletakan batu pertama pembangunan Museum Majapahit. 

Pementasan yang memadukan tari, musik, drama, serta teknologi multimedia itu mendapat sambutan antusias dari ratusan penonton. Pertunjukan tersebut turut disaksikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa (Gus Barra), serta Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari (Ning Ita). 

Di atas panggung, kisah Garudheya tidak sekadar ditampilkan sebagai cerita legenda. Gerak para penari, musik, adegan dramatik, hingga visual multimedia dirangkai untuk membawa penonton mengikuti perjalanan sang Garudheya sejak kecil hingga dewasa. 

Kisah bermula ketika Garudheya mengetahui ibunya, Winata, diperbudak oleh Kadru. Dari situlah tekad sang anak tumbuh. Garudheya kemudian menempuh perjalanan hingga menembus pintu kahyangan untuk mendapatkan Tirta Amarta sebagai syarat membebaskan ibunya. 

”Garudheya menceritakan tentang legenda. Perjalanan hidup sang Garudheya sejak kecil hingga dewasa yang melihat ibunya diperbudak oleh Ibu Kadru,” tutur Aditya Prisma Sugondo, koreografer tarian tersebut. Menurut Adit, kekuatan cerita tidak hanya terletak pada perjuangan Garudheya. Ada hubungan batin antara anak dan ibu yang menjadi benang merah sepanjang pertunjukan. 

Dengan tekad yang kuat, Garudheya menghadapi berbagai rintangan demi membebaskan sang ibu. Namun, di balik perjalanan tersebut, doa seorang ibu terus menyertai langkah anaknya. Pesan itu kemudian diterjemahkan melalui bahasa tubuh, musik, dramatika panggung, serta teknologi multimedia. Perpaduan tersebut membuat kisah yang bersumber dari tradisi dan mitologi Jawa itu terasa lebih dekat dengan penonton masa kini. 

Pementasan Garudheya diproduksi oleh Sanggar Seni Lestari Widodo Wiryotama, Kabupaten Tulungagung. Bagi Adit, membawa cerita Garudheya ke panggung dalam momentum pembangunan Museum Majapahit memiliki makna tersendiri. 

Adit sendiri bukan nama baru dalam panggung pertunjukan tari kontemporer. Koreografer asal Kabupaten Tulungagung tersebut juga terlibat dalam pementasan tari di Istana Negara dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI beberapa waktu lalu. Melalui Garudheya, legenda lama kembali menemukan panggungnya. Kali ini, di Trowulan, ruang yang berabad-abad lalu menyimpan jejak peradaban. (fan/ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
legenda majapahit menbud fadli zon drama sang garudheya Kementerian Kebudayaan