Kemarau Panjang di Mojokerto, Debit Irigasi Pertanian Terancam

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 08:32 WIB
ANCAM IRIGASI: Kondisi persediaan air di Waduk Rodokan, Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto yang menyusut akibat kemarau panjang, Rabu (9/9). (Sofan Kurniawan/JPRM)

 
ANCAM IRIGASI: Kondisi persediaan air di Waduk Rodokan, Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto yang menyusut akibat kemarau panjang, Rabu (9/9). (Sofan Kurniawan/JPRM)   

BPBD Siapkan Antisipasi Kemarau hingga Akhir Tahun 

KABUPATEN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menyiapkan antisipasi menghadapi potensi kemarau panjang. Di antaranya dengan menyiagakan penanganan dampak krisis air bersih serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga akhir tahun mendatang. 

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal mengungkapkan, status tanggap darurat bencana kekeringan dan karhutla yang ditetapkan sejak 1 Juli lalu akan berlangsung sampai 31 Oktober mendatang. Meski demikian, langkah penanganan bencana tetap dipersiapkan sampai dengan pengujung 2026 nanti. 

Selain telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 300 juta, penanganan lanjutan untuk bantuan krisis air di tiga desa terdampak juga diusulkan melalui perubahan APBD tahun ini. Langkah tersebut, sebut Rinaldi, bertujuan untuk mengantisipasi apabila terjadi kekeringan berkepanjangan. ’’Kami berharap usulan di P-APBD 2026 bisa mencakup bantuan air bersih kalau misalnya nanti prediksi musim kemarau panjang sampai 2027,’’ paparnya, Kamis (10/9). 

Bahkan, kemarau tahun ini tak hanya menyebabkan krisis air bersih bagi masyarakat, tetapi juga berpotensi mengancam ketersediaan air irigasi. Karena itu, perlu dilakukan mitigasi untuk penanganan dampak cuaca ekstrem tersebut. ’’Karena kami juga melihat mulai ada potensi berkurangnya debit air terkait dengan irigasi sawah,’’ tuturnya. 

Sejauh ini, krisis air masih dialami di tiga desa dengan jumlah warga terdampak mencapai 2.776 kepala keluarga (KK). Masing-masing tersebar di Desa Kunjorowesi dan Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro serta di Desa Duyung, Kecamatan Trawas. 

Sejak dua bulan lalu, ketiga desa telah disalurkan bantuan air bersih sebanyak tujuh tangki per hari dengan kapasitas 4.000 liter per tangki. Mulai pertengahan September ini bantuan air tetap dilanjutkan melalui kantong APBD Kabupaten Mojokerto dengan pagu yang sama. 

Selain kekeringan, BPBD juga memberi atensi terkait karhutla yang dalam triwulan terakhir ini mengalami tren peningkatan. Tercatat, sebanyak 92 kasus kebakaran yang terjadi selama periode Juli-Agustus. 

Dari jumlah tersebut, ungkap Rinaldi, lebih dari separuhnya merupakan jenis kebakaran lahan. Mirisnya, dugaan penyebabnya lebih dari 90 persen akibat ulah manusia. ’’Karena itu kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar,’’ tegasnya.

Puncak kejadian kebakaran terjadi pada Agustus dengan jumlah total 64 kasus. Memasuki pekan kedua September ini, diperkirakan tren kebakaran mulai mengalami penurunan meski belum signifikan. (ram/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
kemarau mojokerto kemarau panjang irigasi pertanian