BMKG Juanda Prediksi Kemarau di Mojokerto Molor hingga November

Martda Vadetya • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 07:49 WIB

 

TERIK: Pemotor berkendara di bawah cuaca terik musim kemarau ini di wilayah Kota Mojokerto. (dok JPRM)
TERIK: Pemotor berkendara di bawah cuaca terik musim kemarau ini di wilayah Kota Mojokerto. (dok JPRM) 

MOJOKERTO RAYA - Warga Kota dan Kabupaten Mojokerto mesti bersiap menghadapi berbagai dampak terjadinya El Nino. Fenomena alam ini bahkan membuat musim kemarau berlangsung semakin lama.

Ketua Tim Kerja Meteorologi BMKG Juanda Andrie Wijaya mengungkapkan, musim kemarau tahun ini diprakirakan tidak berakhir tepat pada Oktober. Kemarau bahkan dimungkinkan masih berlangsung hingga menginjak November. ’’Kemungkinan selisih satu atau dua dasarian (rentang waktu 10 harian) lebih panjang dari biasanya. Tergantung topografi masing-masing daerah juga,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Senin (7/9).

Umumnya, musim kemarau berlangsung kurun April hingga Oktober sehingga menginjak musim hujan pada November. Ia menguraikan, kemarau panjang saat ini salah satunya dipicu menguatnya intensitas El Nino. Fenomena ini membuat pasokan awan hujan berkurang drastis karena tertarik ke wilayah Samudra Pasifik. Sehingga cuaca menjadi sangat terik disertai durasi kemarau yang lebih panjang. ’’Untuk puncak musim kemarau berlangsung di Agustus sampai September ini,’’ terang Andrie.

Tak ayal, warga Mojokerto mesti bersiap menghadapi berbagai dampak kemarau panjang yang harus dimitigasi. Seperti potensi kekeringan, peningkatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga ancaman gagal panen.

BMKG mengimbau agar instansi terkait meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi yang membayangi warga. Langkah mitigasi dibutuhkan untuk meminimalisir dampak langsung pada masyarakat. ’’Apabila ada perkembangan terbaru mengenai periode awal musim hujan, nanti akan segera kami informasikan lebih lanjut,’’ tukasnya. (vad/fen)

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
november bmkg juanda musim kemarau