Bulan Depan, Jatah Distribusi Air Bersih di Wilayah Kekeringan Mojokerto Habis 

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 09:53 WIB
DIDISTRIBUSIKAN: Warga Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro mengambil air bersih dari dropping bantuan BPBD Kabupaten Mojokerto, Juli lalu. (Sofan Kurniawan/JPRM)
DIDISTRIBUSIKAN: Warga Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro mengambil air bersih dari dropping bantuan BPBD Kabupaten Mojokerto, Juli lalu. (Sofan Kurniawan/JPRM)

 Bakal Ditambah melalui APBD, untuk Tiga Desa Terdampak Kekeringan 

KABUPATEN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto berancang-ancang untuk menambah dropping air bersih di tiga desa terdampak kekeringan melalui P-APBD 2026. Pasalnya, bantuan distribusi sebanyak 300 tangki air yang bersumber dari Pemprov Jatim akan habis mulai pekan depan.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim mengatakan, terhitung sejak 22 Juli lalu Pemprov Jatim melalui BPBD telah menggelontorkan bantuan air bersih ke tiga desa terdampak kekeringan di kabupaten. 

Dengan kuota 300 tangki berkapasitas 4.000 liter, dropping air bersih akan berakhir pada Jumat (11/9) nanti. Jadi, nanti akan tetap dilanjutkan oleh Pemkab Mojokerto dropping air bersihnya, terangnya, Kamis (3/9). 

Selanjutnya, kata dia, penyaluran air bersih akan di-cover sepenuhnya di P-APBD Kabupaten Mojokerto tahun anggaran 2026. Terkait alokasi bantuan, Khakim menyatakan, estimasi kebutuhan akan ditentukan melalui hasil asesmen di lokasi terdampak krisis air. Kami akan melakukan asesmen terlebih dahulu nanti, imbuhnya. 

Terkait sasaran, distribusi bantuan air bersih juga tetap disalurkan di tiga wilayah yang masih kesulitan mendapatkan air bersih. Dua di antaranya menyasar wilayah di Kecamatan Ngoro. 

Masing-masing di Desa Kunjorowesi dengan jumlah warga terdapat sebanyak 1.499 kepala keluarga (KK) dan Desa Manduro Manggung Gajah dengan warga terdampak sejumlah 774 KK. Sedangkan satu titik lainnya didrop ke Kecamatan Trawas. Tepatnya di Desa Duyung dengan jumlah 503 KK yang terdampak krisis air bersih.

Khakim menyebutkan, kuota bantuan diperkirakan akan diplot untuk dua bulan ke depan. Pasalnya, puncak musim kemarau diprediksi akan berlangsung hingga Oktober mendatang. Puncak kemarau terjadi sejak Agustus dan diperkirakan sampai Oktober, paparnya. 

Jangka waktu tersebut juga selaras dengan status tanggap darurat bencana yang ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Mojokerto Nomor 100.3.3.2/266/HK/416-012/2026. Berdasarkan SK tersebut, masa tanggap darurat bencana kekeringan dan karhutla di Kabupaten Mojokerto berlaku mulai 1 Juli hingga 31 Oktober 2026 mendatang. (ram/ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
bpbd kabupaten mojokerto kekeringan mojokerto distribusi air bersih