PURI - Salah satu pekerja yang selamat dalam peristiwa ledakan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Puri, Robiatul Adawiyah, menuturkan bagaimana ia terhempas sejauh 2 meter hingga mengalami luka.
Saat ditemui Jawa Pos Radar Mojokerto, Jumat (14/8), Robiatul menuturkan, ketika kejadian berlangsung dirinya bersama rekan-rekan lain sedang menyiapkan bahan makanan di ruangan yang letaknya tepat di samping area penyimpanan gas.
Pada saat itu kegiatan berjalan normal. Ia bersama rekannya tengah memetik sayur ketika mendapati ada teknisi yang tengah mengecek dan membuang sisa gas di area yang jaraknya sekitar empat meter dari tempatnya bekerja.
Menurut Robiatul, kegiatan pembuangan gas seperti itu bukan pertama kali dilakukan saat ada masalah pada instalasi. Namun ia menyebut, dentuman ledakan kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya.
"Waktu itu saya sedang memetik selada sama teman. Ruangan kami sebelah area gas. Sebelumnya memang sudah diingatkan kalau gasnya masih dibuang. Tapi tiba-tiba terdengar suara keras, kemudian api muncul dan saya seperti terdorong," ujarnya.
Ia mengaku terlempar sejauh kurang lebih dua meter akibat daya ledak. Ketika hendak menyelamatkan diri, atap di bagian depan tiba-tiba runtuh dan membuatnya kembali terbentur. Beruntung ia segera ditarik rekannya untuk keluar dari ruangan.
"Rasanya seperti didorong api dari belakang. Saya mau lari, tapi atap sudah roboh di depan. Punggung juga kena. Teman saya langsung menarik, ‘Ayo keluar, ayo keluar’," katanya.
Akibat insiden itu, Robiyatul mengalami luka di bagian pinggang serta benjolan dan memar di belakang kepala. Setelah kejadian, bagian kepalanya yang benjol sempat dibalut perban.
Robiyatul juga menyebut, gangguan pada sistem gas sebenarnya sudah terjadi sehari sebelumnya. Pada Rabu (13/8), gas dilaporkan sempat membeku sehingga kompor padam saat proses memasak berlangsung. Teknisi pun dipanggil untuk menangani.
Meski gangguan teknis pernah muncul, Robiyatul menegaskan ini adalah kali pertama ia mengalami ledakan selama bekerja di SPPG. Ia sendiri sudah bekerja sejak dapur MBG tersebut beroperasi pada September 2025.
Setelah kejadian, pihak pengelola disebut meminta seluruh kegiatan dihentikan sementara sampai penyebab pasti ledakan diketahui dan ditangani.
Ia berharap seluruh korban segera pulih dan seluruh persoalan teknis di lokasi benar-benar diperiksa sebelum operasional dilanjutkan. (oce/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto