Kemenhaj Mulai Matangkan Skema Pengoperasian
KABUPATEN - Rombongan haji Kabupaten Mojokerto kemungkinan tidak akan berangkat melalui jalur penerbangan Bandara Internasional Juanda Surabaya di Sidoarjo lagi di tahun 2027 nanti. Ini setelah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memproyeksikan bandara Internasional Dhoho Kediri sebagai jalur penerbangan haji baru di Jawa Timur.
Bahkan, Kemenhaj kini sedang mematangkan skema pengoperasian Dhoho sebagai embarkasi baru (DHX) guna memecah penumpukan dan beban operasional di Embarkasi Surabaya (SUB). Yakni dengan membagi rombongan haji di Jatim menjadi dua wilayah. Jatim timur ikut embarkasi SUB dan Jatim barat ikut DHX.
Plt Kepala Kemenhaj Kabupaten Mojokerto M. Hilmi Faqih mengatakan, Bandara Dhoho Kediri dinilai sudah siap dalam melayani penerbangan dari dan menuju Arab Saudi. Bahkan, bandara di sisi barat Kediri ini mampu melayani pesawat berbadan lebar (wide body) yang biasa digunakan untuk akomodasi haji.
Hal ini menjadi pendukung positif operasional embarkasi baru selain penyediaan akomodasi karantina. ’’Kemungkinan Kabupaten Mojokerto masuk di embarkasi Dhoho Kediri untuk memecah kepadatan di Juanda,’’ ungkapnya, Jumat (7/8).
Meski begitu, perpindahan embarkasi tersebut ditegaskan Hilmi tak lantas memengaruhi kekhusyukan 1.293 calon jemaah haji (CJH) dalam journey religinya ke Tanah Suci.
Termasuk persiapan mereka di keberangkatan musim haji tahun 2027 mendatang. Mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga kelengkapan dokumen dan administrasi, serta pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) yang dikabarkan naik menjadi Rp 107 juta per jemaah.
Meski mengalami kenaikan, namun biaya tersebut masih akan mendapat subsidi dari nilai manfaat sebesar 60 persen. ’’Belum ada kepastian, karena masih disodorkan ke presiden, termasuk jadwal pelunasan yang juga belum ditentukan tanggalnya. Namun, jemaah sudah kami himbau untuk persiapan mulai bulan Agustus ini,’’ pungkasnya. (far/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto