Tempat Praktik Prostitusi Terselubung Picu Penularan Tertinggi
Tempat Praktik Prostitusi Terselubung Picu Penularan Tertinggi
KABUPATEN – Penertiban tempat prostitusi terselubung oleh satpol PP di wilayah Kabupaten Mojokerto mengungkap fakta baru. Tiga wanita tunasusila yang dinyatakan positif HIV/AIDS saat terjaring razia sebelumnya, mengaku menerima tamu hingga 30 pria per hari, dengan mayoritas menyasar kelompok usia produktif.
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terkait masifnya potensi penyebaran penyakit menular, khususnya HIV/AIDS. Mengingat, tingginya aktivitas di lokasi-lokasi terselubung tersebut. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati menegaskan, keberadaan tempat prostitusi terselubung sangat rawan dan berpotensi tinggi terjadi penularan HIV di bumi Majapahit.
Menyusul, keberadaan mereka sulit diawasi secara rutin oleh petugas kesehatan. ’’Praktik terselubung seperti ini sangat berisiko. Selain tidak ada intervensi edukasi secara langsung, kita juga tidak bisa melakukan pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala kepada mereka,’’ ungkapnya, kemarin (24/7). Terlebih, tiga wanita tunasusila positif HIV yang baru saja terjaring tersebut dipastikan pasien atau kasus baru. Berdasarkan penelusuran sistem data kesehatan, identitas ketiganya belum terdaftar dalam basis data penderita HIV yang selama ini berada dalam pemantauan rutin.
Hal ini mengindikasikan ketiganya kemungkinan besar tidak menyadari kondisi kesehatan dan terus beraktivitas tanpa menggunakan pengaman. Sehingga potensi menular ke pelanggan lain sangat tinggi. ’’Apalagi, yang membuat kami prihatin dan terkejut, satu pekerja tunasusila yang terjaring satpol PP di tempat itu, setiap harinya bisa sampai melayani pelanggan hingga 30 orang,’’ sesalnya.
Mereka juga, kata Dyan, kerap menjadi jujukan usia produktif. ’’Tidak menutup kemungkinan juga menyasar usia pelajar tingkat SMA. Fenomena ini tentu sangat mengkhawatirkan. Bayangkan satu melayani sampai 30 pelanggan, kalau tiga, tinggal kalikan,’’ jelasnya.
Dengan demikian, dinkes juga mengajak semua pihak berperan aktif menutup celah praktik menyimpang di warung remang-remang ini. ’’Kami juga mengimbau bagi yang pernah ”jajan sembarangan” di dua tempat terselubung itu, cepat periksakan sebelum terlambat. Ini bagian dari upaya deteksi dini agar penyebaran tidak makin meluas,’’ papar Dyan.
Untuk menekan angka penularan HIV yang terus meningkat, dinkes menggandeng berbagai komunitas pendamping untuk menjangkau populasi kunci yang sulit tersentuh. Di samping terus memperluas pemantauan pemberian obat ARV (Antiretroviral) bulanan di tingkat puskesmas dan rumah sakit.
Termasuk menggalakkan edukasi pencegahan ke sekolah-sekolah dan kelompok masyarakat. Sebelumnya, dinkes bergerak cepat melakukan pelacakan (tracing) kontak terhadap keluarga dari tiga wanita tunasusila yang terdeteksi positif HIV hasil razia satpol PP.
Langkah ini diambil sebagai bentuk deteksi dini dan upaya pengendalian agar penularan virus tidak terus meluas. Selain keluarga terdekat, proses pelacakan juga menyasar pemilik atau pengelola warung remang-remang. (ori/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto