Mereka khawatir, nilai keuntungan yang didapat dari program nasional tersebut merosot drastis, sehingga tidak bisa menutup modal yang sudah digelontorkan. Kecemasan tersebut bukan bualan belaka. Sebab, dikabarkan ada pengurangan produksi paket makanan yang akan diberikan ke penerima manfaat di masing-masing SPPG.
Dari yang sebelumnya 2.500 hingga 3.000 paket, menjadi hanya 1.500 hingga 1.700 paket. Pengurangan itu tak lepas dari overload-nya jumlah SPPG yang telanjur di-approve BGN. Termasuk di wilayah Kota Mojokerto, terpantau ada 13 SPPG baru yang sudah terbangun dan siap beroperasi. ”Di Kecamatan Prajurit Kulon saja ada empat sampai enam SPPG baru yang sudah dibangun. Pastinya akan ada penyesuaian jumlah paket MBG yang dibagikan,” ujar Hamim, salah satu pengurus SPPG Blooto, kemarin (12/7).
Dengan pengurangan itu, nilai keuntungan yang didapat dari anggaran yang digelontorkan di masing-masing SPPG otomatis berkurang. Dari yang sebelumnya bisa mendapat Rp 6 juta per hari, kini bisa berkurang menjadi hanya Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per hari. Atau jika diakumulasikan setiap bulan hanya mendapat Rp 72 juta dari sebelumnya yang mampu meraup Rp 144 juta per bulan.
Penurunan tersebut yang kini menjadi dilema sebagian besar investor. Sebab, kalkulasi mereka mampu menutup modal sebesar Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar selama dua tahun berjalan terancam tertunda. Bahkan, bagi SPPG baru, mereka juga harus berhitung kembali dengan masa aktif program MBG, yakni setara dengan masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang tersisa tiga tahun lagi.
”Informasinya ada pengurangan. Namun, belum disosialisasikan oleh BGN ke pengurus SPPG baru. Ya, kami harus berhitung lagi untuk bisa menutup modal,” imbuh salah satu investor SPPG baru yang enggan disebut namanya.
Koordinator Wilayah (Korwil) BGN Kota Mojokerto Rahmad Rihfari membenarkan kabar tersebut. Menurutnya, penyesuaian jumlah paket MBG ini selaras dengan keberadaan SPPG baru yang sudah di-approve, namun belum beroperasi. Hanya saja, untuk penerapannya masih menunggu instruksi BGN pusat.
Saat ini, lanjutnya, SPPG diminta untuk lebih fokus pada penyesuaian jumlah penerima manfaat di tahun ajaran baru. ”Ya, memang ada penyesuaian produksi paket makanan sesuai edaran terbaru. Jika kami hitung, setiap SPPG di Kota Mojokerto nanti bisa memproduksi 1.500 hingga 1.700 paket,” terangnya.
Ia menegaskan, di Kota Mojokerto, BGN telah mendata jumlah penerima manfaat MBG yang totalnya mencapai 47 ribu. Angka tersebut idealnya akan di-cover 31 SPPG. Saat ini, baru ada 18 SPPG yang sudah beroperasi dan 13 masih dalam proses validasi dan survei lapangan BGN. ”Masih menunggu validasi dan survei dari pusat. Kami sendiri targetkan Agustus nanti sudah berjalan ideal,” pungkasnya. (far/ris)
Editor : Fendy Hermansyah