Terdampak Kemarau, Tiga Desa di Mojokerto Alami Krisis Air

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Sabtu, 4 Juli 2026 | 10:00 WIB
MENGERING: Tandon untuk menampung air bersih di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto yang kondisinya kini mulai surut akibat kemarau. (Rizal JPRM)
MENGERING: Tandon untuk menampung air bersih di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto yang kondisinya kini mulai surut akibat kemarau. (Rizal JPRM) 

KABUPATEN - Krisis air bersih akibat kemarau di Kabupaten Mojokerto meluas. Wilayah terdampak kekeringan kini bertambah menjadi tiga desa di dua wilayah kecamatan.

Sebelumnya, dua desa telah mengajukan permintaan bantuan air bersih karena mengalami kekeringan. Masing-masing Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro dan Desa Duyung Kecamatan Trawas. Kini, wilayah terdampak bertambah setelah di Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro juga terdampak krisis air bersih. ’’Ada tiga desa yang terdampak,’’ ungkap Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim, kemarin (3/7).

BPBD juga telah menerima permintaan dropping air bersih dari Pemerintah Desa Manduro Manggung Gajah. Dikatakannya, kekeringan yang melanda permukiman di kaki Gunung Penanggungan ini terjadi di dua titik. Masing-masing di Dusun Buluresik dan Dusun Gajah Mungkur yang berpenduduk kurang lebih 774 kepala keluarga (KK).

Khakim menyebutkan, pengajuan dropping air bersih akan sergera direalisasikan melalui penetapan Surat Keputusan (SK) Bupati Mojokerto. ’’Kami juga akan mengajukan pengiriman bantuan air bersih ke Pemprov Jatim,’’ pungkasnya.

Penyaluran air bersih juga akan dilakukan ke dua desa terdampak lainnya. Yakni di Desa Kunjorowesi dan Desa Duyung yang sama-sama mengalami kesulitan air bersih. (ram/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
desa krisis air bencana kekeringan bediding kemarau panjang krisis air