SEMENTARA itu, Bupati Mojokerto Muhammad Albaraa menegaskan, jika pendekatan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, SR dirancang bersifat holistik. Tidak haya berfokus pada akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi sang anak.
Namun, pemerintah juga mengintervensi kesejahteraan ekonomi keluarga siswa. ’’Prinsipnya sangat jelas, anaknya disekolahkan, orang tuanya diberdayakan secara ekonomi, dan rumahnya yang tidak layak huni kita renovasi menjadi aman dan sehat,’’ ungkap Gus Bupati sapaan karib Muhammad Albarraa.
Menurutnya, memutus rantai kemiskinan tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Intervensi di sektor pendidikan anak harus diimbangi dengan penguatan fondasi ekonomi dan kelayakan hunian orang tua di rumah, agar menciptakan ekosistem tumbuh kembang anak yang ideal.
Untuk menyasar aspek pemberdayaan ekonomi orang tua, lanjut Gus Bupati, pemerintah juga memberi rehabilitasi sosial yang difokuskan bagi keluarga peserta didik SR. Mereka merupakan keluarga prasejahtera sesuai Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). ’’Bagi keluarga yang memiliki usaha diberikan dukungan modal berupa alat penunjang usaha untuk meningkatkan pendapatan harian,’’ tegasnya.
Beberapa contoh bantuan yang disalurkan di antaranya mesin jahit dan mesin cuci. Lalu, perlatan pertukangan modern, etalase beserta paket barang dagangan untuk toko kelontong, gerobak mi ayam, hingga kambing jenis PE. ’’Bagi keluarga yang tidak memiliki usaha diberi bantuan sosial berupa paket sembako mendasar untuk memenuhi kecukupan pangan harian,’’ urainya.
Selain pendidikan dan ekonomi, pilar ketiga yang menjadi fokus pemerintah adalah kelayakan tempat tinggal. Melalui program Rumah Sejahtera Terpadu (RST), pemerintah daerah telah mendata kepemilikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari para keluarga siswa SR.
Dalam waktu dekat, keluarga peserta didik SR yang teridentifikasi memiliki RTLH dan lolos kriteria verifikasi akan segera mendapatkan bantuan bedah rumah. ’’Program ini ditargetkan untuk menyulap rumah-rumah bambu atau rusak menjadi hunian yang memenuhi standar keselamatan, kelayakan, kesehatan, dan ketahanan bangunan,’’ jelasnya.
Melalui integrasi tiga aspek utama ini, pendidikan anak, modal usaha orang tua, dan perbaikan rumah, Gus Bupati optimistis program SR dapat menjadi role model penanggulangan kemiskinan yang efektif dan berkelanjutan di daerah. ’’Sebagai komitmen, kami di daerah juga sudah menyiapkan lahan seluas 7,5 hektare untuk pembangunan Sekolah Rakyat, yang nantinya akan mengintegrasikan jenjang pendidikan secara menyeluruh. Mulai dari SD hingga SMA,’’ tandasnya.
Kepala SRMP 15 Mojokerto Heri S. Mamuaya menambahkan, kunci utama dari perubahan masif ini ada pada penerapan kurikulum yang adaptif, fokus pada potensi anak, serta pendekatan yang intensif. Itu setelah SR ini tidak hanya terpaku pada kurikulum nasional yang kaku.
Mereka memiliki jargon andalan SIP (Sekolah Inovatif dan Produktif). ’’Nilai inilah yang dieksplorasi secara mendalam oleh para pendidik untuk membongkar potensi terbaik siswa,’’ ungkapnya. Ia turut mematahkan stigma jika anak berlatar belakang ekonomi rendah memiliki kapasitas otak yang inferior.
Masalah utama selama ini bukanlah ketiadaan bakat, melainkan ketiadaan asahan dan kesempatan. ’’Di Sekolah Rakyat, semua anak diberikan ruang yang sama untuk dieksplorasi bakatnya. Hasilnya luar biasa. Dalam ajang kompetisi nasional siswa Sekolah Rakyat berhasil membawa pulang prestasi gemilang,’’ paparnaya.
Seperti meraih juara satu dan dua Lomba English Olympic 2026, menyabet delapan perak dan 15 perunggu dari Olimpiade Nasional yang digelar Indonesia Youth Smart Competition (IYSC). Mulai mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, IPA, dan IPA. Dalam bidang seni rupa, tari, dan kerajinan pahat, potensi mereka juga melejit. Saat acara open house, separuh siswa juga menunjukkan bakatnya dalam membuat patung pahatan. ’’Seperti yang sudah dibuat anak-anak ada patung Pak Presiden Prabowo,’’ pungkas Heri. (ori/ris)
Editor : Fendy Hermansyah