Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sekolah Rakyat Merah Putih di Kabupaten Mojokerto Angkat Derajat Wong Cilik 

Khudori Aliandu • Jumat, 26 Juni 2026 | 09:49 WIB
BERBAKAT: Siswa 15 Mojokerto Muhammad Efendi Bayu Firmansyah menunjukkan kerajinan pahatnya saat ditemui di rumahnya, Desa Karangkedawang, Kecamatan Sooko, Selasa (23/6). (Khudori JPRM)
BERBAKAT: Siswa 15 Mojokerto Muhammad Efendi Bayu Firmansyah menunjukkan kerajinan pahatnya saat ditemui di rumahnya, Desa Karangkedawang, Kecamatan Sooko, Selasa (23/6). (Khudori JPRM)

Bagi sebagian orang, nasib baik mungkin datang berulang kali. Namun, bagi 50 anak angkatan pertama di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 15 Mojokerto ini, kesempatan mengenyam pendidikan layaknya dihampiri Dewi Fortuna. Mereka yang terpilih bukanlah anak-anak dengan latar belakang ekonomi mapan, melainkan berada di garis paling rentan. Ada anak-anak dari keluarga broken home, yatim piatu, hingga anak pemulung yang hampir putus asa menatap masa depan. 

AKAN tetapi, mendung pesimisme itu perlahan bergeser menjadi fajar optimisme berkat hadirnya program strategis nasional bertajuk Sekolah Rakyat (SR). Program diinisiasi sebagai pilar strategis Presiden Prabowo Subianto untuk memuliakan wong cilik ini, kini mulai memetik cerita-cerita humanis tentang perubahan nasib dari akar rumput. Berseminya secercah harapan menuju Indonesia Emas 2045 pun kian terang. 

Sistem boarding school yang diterapkan tidak hanya membebaskan seluruh biaya pendidikan, tetapi juga memutus mata rantai lingkungan yang kurang mendukung tumbuh kembang mereka. Lalu, menggantinya dengan ekosistem belajar yang disiplin, aman, dan penuh kasih sayang. Salah satu potret nyata keberhasilan program ini terpancar dari sosok Muhammad Efendi Bayu Firmansyah, 13, asal Dusun Karangkliwon, Desa Karangkedawang, Kecamatan Sooko. Sebelum masuk SR, masa depan Bayu tampak abu-abu di antara tumpukan barang rongsokan. Namun, kini, setelah satu tahun mengenyam pendidikan berasrama di SR, transformasi luar biasa terjadi pada dirinya.

Bayu tidak hanya tumbuh menjadi anak yang jauh lebih disiplin, tetapi juga memperlihatkan sisi religiusitas yang semakin matang serta kemandirian. Asrama SR terbukti sukses menggali potensi terpendamnya. Bayu kini mampu memperagakan seni tari dan memiliki kreativitas membuat kerajinan tangan. Memanfaatkan bahan hebel (bata ringan), tangan terampil anak pemulung ini mampu menyulapnya menjadi ukiran vas bunga, asbak, patung burung hantu hingga patung Presiden Prabowo. 

Produk kreatif bernilai seni itu dipamerkan saat open house yang dihadiri para orang tua dan jajaran pejabat Pemkab Mojokerto, Sabtu (20/6). Sehingga dari balik asrama SR, Bayu kini berani mendongakkan kepala dan merajut mimpi besar. ’’Melalui Sekolah Rakyat ini saya mempunyai harapan besar bisa menggapai mimpi sebagai seorang prajurit TNI,’’ ucap Bayu. 

Sebuah mimpi yang dulu tak berani ia sebut, kini perlahan menemukan jalannya lewat kedisiplinan dan keterampilan. Rasa syukur mendalam juga diutarakan sang ibu, Zuli Istiarini, 41. Bagi Zuli dan suami, Alfan, 45, kesempatan yang didapat anak bungsu dari empat bersaudara ini adalah ”mukjizat” nyata. 

’’Setahun di Sekolah Rakyat, banyak perubahan dari Bayu. Dari sebelumnya tidak bisa baca, sekarang bisa. Karakternya juga semakin baik. Salatnya full lima waktu, dan sekarang lebih mandiri. Kakaknya saja kalah,’’ tutur Zuli yang juga berharap jenjang SMA segera dibuka agar anak ketiganya bisa masuk tahun depan. 

Selama ini, kehidupan keluarga mereka jauh dari kata cukup. Dengan penghasilan tidak tetap, Zuli yang tinggal di rumah semi permanen berbahan bambu dan beralaskan tanah ini hanya mengantongi Rp 600 ribu per bulan dari pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga (ART). Angka yang sangat minim untuk menghidupi keluarga.

Sedangkan sang suami penghasilannya sebagai pemulung juga tak menentu. Bahkan, keluarga ini juga tidak punya aset untuk dijadikan tempat tinggal tetap. ’’Jangankan untuk pemenuhan kebutuhan sekolah anak, untuk makan sehari-hari saja kadang masih kurang. Tempat tinggal juga tidak menetap, berpindah-pindah,’’ ungkap Zuli ditemuai di rumahnya. 

Namun, buah program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini, belakangan dia mendapat bantuan dua kambing jenis PE (peranakan etawa) untuk dikembangkan sebagai penopang ekonomi keluarga. ’’Alhamdulilah, Sekolah Rakyat ini menjadi secercah harapan bagi masa depan anak-anak kami. Termasuk meningkatkan kesejahteraan keluarga kami untuk lebih baik,’’ tandasnya. (ori/ris)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#srmp mojokerto #sekolah rakyat merah putih #Sekolah Rakyat #kementerian sosial