”Kami berharap pemerintah kota ini punya program yang langsung menyentuh masyarakat, tidak hanya mereka yang terorganisir atau dirawat di liponsos.”
Budiarto
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Mojokerto
”Fakta di lapangan kadang agak susah, kadang ada lansia rentan yang tidak di-openi keluarganya, tapi juga tidak boleh dibawa ke RPL oleh keluarganya.”
Farida Mariana
Plt Kepala Dinsos P3A Kota Mojokerto
Di Antaranya dengan Memberikan Bantuan Makan Gratis
KOTA – DPRD Kota Mojokerto meminta pemkot memperhatikan kesejahteraan kelompok masyarakat rentan yang hidup sebatang kara. Salah satunya dengan memberikan makan gratis.
”Sekarang ini kan gencar-gencarnya pemerintah memberikan makan gratis. Harapan kami, makan gratis bukan hanya untuk anak sekolah, tapi keluarga rentan yang khususnya hidup sebatang kara perlu dikasih makan gratis,” kata Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Mojokerto Budiarto, kemarin (14/6).
Menurutnya, kesejahteraan sosial kelompok masyarakat rentan perlu mendapat perhatian khusus. Salah satunya melalui penyediaan makanan gratis dari pemkot bagi penduduk yang hidup sebatang kara. ”Kami berharap pemerintah kota ini punya program yang langsung menyentuh masyarakat, tidak hanya mereka yang terorganisir atau dirawat di liponsos,” tutur politikus Fraksi PKS itu.
Budiarto mengatakan, kapasitas penanganan masyarakat rentan di liponsos atau Rumah Peduli Lansia (RPL) Kota Mojokerto selama ini terbatas. Akibatnya, tak semua warga merasakan bantuan yang langsung terasa, layaknya jatah makan setiap hari. ”Kalau yang di liponsos kan terbatas, jadi kami berharap pemerintah kota hadir untuk memberikan makan gratis, makan siang, kepada masyarakat yang sudah lama menunggu bantuan dari pemerintah,” tandasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinsos P3A Kota Mojokerto Farida Mariana mengatakan, penanganan warga lansia rentan selama ini dilakukan di RPL yang berada di Balongrawe, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari. Hanya saja, dirinya mengakui tidak mudah untuk memindahkan warga ke fasilitas tersebut.
”Fakta di lapangan kadang agak susah, kadang ada lansia rentan yang tidak di-openi keluarganya, tapi juga tidak boleh dibawa ke RPL oleh keluarganya,” tuturnya. Kendati demikian, Farida menyatakan, pemkot selalu berupaya untuk memberi perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat rentan, seperti warga yang hidup sebatang kara hingga anak yatim dan piatu. ”Pada prinsipnya kami siap, termasuk kalau ada orang telantar dan anak yatim untuk ditampung oleh negara di RPL,” ujar dia. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah