Hal ini disampaikan Kepala Seksi Sarana Angkutan Jalan Dishub Jatim Cito Eko Yuly Saputro. Menurutnya, pembayaran Trans Jatim yang selama ini berlaku secara hibrida antara tunai dan nontunai ditarget sudah sepenuhnya tanpa transaksi tunai (cashless) tahun ini. Penerapan kebijakan baru tersebut kini memasuki tahapan sosialisasi yang berlangsung hingga bulan depan.
”Untuk saat ini, bulan ini (Juni) sampai bulan depan (Juli), kita masih sosialisasi sambil menunggu reaksi dari masyarakat,” katanya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin (15/6).
Cito memastikan sistem digitalisasi ini tak diterapkan dengan tergesa-gesa dan tetap memperhatikan kondisi penumpang. Pihaknya pun menyadari belum pasti semua penumpang memiliki akses nontunai. Karena itu, ketika kebijakan ini nantinya berlaku, manajemen Trans Jatim tetap memberi ruang bagi penumpang untuk membayar secara tunai.
Caranya, lanjut Cito, setiap pramugara/pramugari akan dibekali alat transaksi elektronik. Melalui bantuan petugas bus itulah, penumpang yang tidak memiliki QRIS atau kartu e-money bisa menyerahkan uang tunai untuk kemudian ditransaksikan secara nontunai.
”Penumpang yang tidak mempunyai kartu uang elektronik, tidak paham terkait gadget menggunakan QRIS atau e-wallet, nanti akan dibantu oleh petugas kami. Masyarakat yang sepuh-sepuh, yang tidak mempunyai uang elektronik, mungkin bisa bayar atau titip bayar ke pramugara-pramugari,” bebernya.
Selain itu, tambah Cito, pemprov juga akan memberi stimulus kepada penumpang dengan membagikan kartu pelanggan Trans Jatim atau KPT gratis. Kartu elektronik tersebut bisa digunakan untuk menaiki bus setelah diisi saldo secara mandiri. ”Pembagiannya gratis, tapi dengan syarat yang akan menerima itu harus mendaftar dulu di pool (pangkalan bus),” ujarnya.
Cito menuturkan, terdapat dua faktor utama yang menjadi pertimbangan pemprov menerapkan 100 persen pembayaran nontunai. Pertama, untuk memangkas antrean saat pembayaran. ”Contoh ada mahasiswa yang hanya bayar Rp 2,5 ribu tetapi menggunakan uang Rp 100 ribu, itu pas sore atau pas pagi hari itu waktu crowded kan membuat antrean pembayaran,” ungkapnya.
Kedua, mengurangi potensi fraud atau kecurangan yang muncul dalam transaksi tunai. Melalui digitalisasi transaksi, semua uang pembayaran dari penumpang otomatis akan terdata di sistem digital. ”Kita mencegah terjadinya fraud karena kalau digitalisasi kan itu terdata semua,” tandasnya. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah