Fenomena Bediding di Mojokerto Raya
MOJOKERTO RAYA - Akhir-akhir ini suhu udara wilayah Kota dan Kabupaten Mojokerto terasa lebih dingan dari biasanya. Itu karena sedang terjadi fenomena bediding yang biasa berlangsung setiap memasuki musim kemarau.
Ketua Tim Kerja Meteorologi BMKG Juanda Andrie Wijaya menerangkan, terjadinya fenomena bediding punya beberapa ciri. Di antatanya, suhu udara pada malam dan pagi hari terasa lebih dingin berikut hujan yang sudah jarang terjadi. Di Mojokerto, suhu paling dingin terjadi di wilayah kabupaten yakni 14-30 derajat celsius. Sementara di kota kisaran 21-30 derajat celsius. ’’Suhu minimum di wilayah pegunungan bisa turun signifikan pada malam atau dini hari,’’ jelasnya, kemarin (11/6).
Menurutnya, ada berbagai faktor penyebab terjadinya bediding. Utamanya, langit cerah tanpa awan saat malam hari di musim kemarau dan kelembapan udara rendah membuat panas lebih cepat terlepas ke atmosfer. ’’Penyebab lainnya, adanya angin Muson Timur dari Australia yang sedang musim dingin bergerak menuju Indonesia,’’ beber Andrie.
Bediding, lanjut dia, diprakirakan terjadi kurun Juni - September dan puncaknya pada Agustus mendatang. Petani di dataran tinggi perlu mewaspadai embun beku yang bisa merusak tanaman. Suhu dingin juga bisa memicu penyakit flu, batuk hingga ISPA. ’’Secara umum bediding tidak berbahaya, karena ini fenomena wajar dan terjadi setiap tahun,’’ sebutnya.
Kendati begitu BMKG mengimbau agar masyarakat mengantisipasi dengan menggunakan pakaian hangat saat malam hari. Perbanyak minum air putih mencegah dehidrasi di siang hari hingga waspadai ISPA. Berikut gunakan tabir surya saat beraktivitas di luar ruang pada siang hari yang cenderung lebih terik. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah