KABUPATEN - BPBD Kabupaten Mojokerto melakukan monitoring ke tiga titik desa rawan kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Diperkirakan, stok air yang tersedia saat ini hanya mencukupi kebutuhan warga hingga akhir Juni nanti.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim mengungkapkan, pihaknya bersama tim telah monitoring di tiga daerah rawan bencana kekeringan pada Senin (4/5) dan Selasa (5/5). Monitoring dilakukan di Desa Kunjorowesi dan Manduro Manggung Gajah di Kecamatan Ngoro serta di Desa Duyung, Kecamatan Trawas. ’’Hasil pemantauan di tiga desa, ketersediaan air sampai saat ini masih tercukupi,’’ ungkapnya kemarin (5/5).
Pengecekan dilakukan di tempat penampungan air atau tandon. Khakim menyebut, di masing-masing desa masih memiliki stok air air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga sehari-hari. ’’Karena kadang-kadang masih turun hujan, jadi sumber air masih mengalir. Meski harus bergiliran, tapi untuk kebutuhan air masih tercukupi,’’ ulasnya.
Namun, ketersediaan air diperkirakan akan menyusut secara perlahan seiring memasuki masa kemarau musim ini. Bahkan, sumber air dipredikisi hanya akan mengalir sampai dengan Juni nanti. ’’(kekeringan) Mungkin terjadi pada awal Juli nanti,’’ tandas dia.
Khakim menyebut, BPBD Kabupaten Mojokerto telah menyiapkan langkah antisipasi dalam menanggulangi ancaman bencan kekeringan tersebut. Antara lain dengan menyiapkan penyaluran air bersih ke wilayah terdampak kekeringan. ’’Sudah ada anggaran untuk dropping air. Terutama untuk tiga desa di wilayah Kabupaten Mojokerto,’’ sebutnya.
Sedikitnya, BPBD menyiapkan alokasi sebanyak 300 tangki dengan kapasitas 5 ribu liter untuk menanggulangi bencana kekeringan. Namun, jatah tersebut masih dapat ditambah dari bantuan dari Pemprov Jatim dengan jumlah kuota yang sama. ’’Saat ini kami terus monitoring dulu, untuk penyaluran biasanya akan disesuaikan dengan pengajuan dari pihak desa,’’ pungkas dia. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah