KOTA - Layanan air Perumdam Maja Tirta, Kota Mojokerto, dikeluhkan warga lantaran kerap mati. Di sisi lain, tarif air per meter kubik yang dikenakan kepada pelanggan dianggap mahal.
Keluhan itu kembali muncul saat distribusi air ke pelanggan kembali mengalami gangguan kemarin (4/5). Aliran air di seluruh wilayah di Kota Mojokerto mati total lantaran adanya penggantian trafo listrik di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Wates milik Perumdam. ’’Sering banget gangguan seperti ini, yang paling sering itu karena pipa bocor dan pompa rusak,’’ kata Wati, salah satu pelanggan di Kecamatan Magersari.
Gangguan pasokan air yang kerap mati membuat warga beralih dari PDAM. Toni, misalnya, sudah setahun terakhir tak lagi menggunakan air yang dipasok BUMD milik pemkot itu lantaran alirannya tak pasti. ’’Mending pakai sumur bor saja, daripada PDAM kadang mati kadang nyala,’’ keluhnya.
Kondisi ini dianggap tak sebanding dengan tarif air PDAM yang dinilai mahal. Berdasarkan Perwali Mojokerto Nomor 29 Tahun 2019, pemkot menerapkan tarif progresif untuk kelompok pelanggan rumah tangga sekitar Rp 1 ribu sampai Rp 5 ribu per meter kubik tergantung jumlah pemakaian. Secara umum, rata-rata pelanggan rumahan membayar sekitar Rp 60-150 ribu per bulan. ’’Dibanding daerah lain ini termasuk mahal ya, meskipun sebenarnya tidak masalah asalkan lancar airnya, masalahnya ini sering macet,’’ keluh Sisilia, warga lain.
Sebelumnya, kinerja Perumdam Maja Tirta juga juga menjadi sorotan DPRD Kota Mojokerto karena belum mampu menyumbang PAD sama sekali. Kondisi ini dinilai tak sebanding dengan penyertaan modal yang digelontorkan pemkot dengan total mencapai Rp 43,5 miliar. Direktur Perumdam Maja Tirta Bambang Ribut Sugiatmono tak kunjung merespons konfirmasi mengenai keluhan pelanggan serta sorotan DPRD. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah