KABUPATEN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menargetkan menambah empat desa tangguh bencana (destana) di tahun 2026 ini. Pembentukan dilakukan di daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana.
Kalaksa BPBD Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin mengatakan, pembentukan destana dilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat desa. Utamanya dalam memahami tentang tata cara saat menghadapi bencana.
Sehingga kelompok warga bisa lebih mandiri dalam mitigasi, penanggulangan, hingga penanganan pascabencana. ’’Tahun ini insya Allah ada empat desa yang akan dilatih untuk menjadi desa tangguh bencana,’’ terangnya, kemarin (28/4).
Dikatakannya, BPBD akan membentuk destana di desa-desa yang wilayahnya terpetakan rawan bencana. Di antaranya yang sudah ditetapkan adalah di Desa Jumeneng, Kecamatan Mojoanyar dan Desa Tinggarbuntut, Kecamatan Bangsal.
Dua desa yang berbatasan langsung dengan Sungai Sadar ini ditunjuk karena memiliki risiko tinggi terhadap bencana banjir. ’’Jadi kolaboratif sifatnya, karena dua desa ini saat Hari Raya Idulfitri kemarin dilanda banjir akibat jebolnya tanggul sungai,’’ papar Rinaldi.
Melalui program destana tersebut, masyarakat Desa Jumeneng dan Desa Tinggarbuntut mendapatkan bekal pelatihan hingga penguatan kapasitas masyarakat. Termasuk pemberian informasi dan edukasi tentang kebencanaan. ’’Harapannya masyarakat lebih tangguh lagi dalam menghadapi bencana-bencana yang akan datang,’’ ulasnya.
Dengan begitu, total terdapat 27 destana yang tersebar di Kabupaten Mojokerto. Di tahun ini juga, BPBD bakal kembali menetapkan dua desa lainnya sebagai destana.
Masing-masing memiliki karakteristik potensi bencana berbeda sesuai dengan kondisi geografis, hidrologis, dan geologis wilayahnya. Antara lain, banjir, banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), gempa bumi, hingga dan likuifaksi. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah