’’Pada 2025 lalu, kita dropping bantuan air bersih ke beberapa desa di utara Sungai Brantas karena ada saluran air yang rusak. Insyaallah tahun ini di sana sudah tidak ada lagi yang kekeringan,’’
Abdul Khakim
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto
Di Selatan, Tiga Desa Terkategori Potensi Krisis Air
KABUPATEN - BPBD Kabupaten Mojokerto telah memetakan daerah rawan kekeringan di musim kemarau tahun ini. Wilayah empat kecamatan di utara Sungai Brantas saat ini sudah tidak terkategori rawan kekeringan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim menuturkan, hal ini dikarenakan mayoritas desa di Utara Sungai Brantas sudah ter-cover jaringan saluran air bersih PDAM dan program WSLIC (water and sanitation for low income communities).
’’Pada 2025 lalu, kita dropping bantuan air bersih ke beberapa desa di utara Sungai Brantas karena ada saluran air yang rusak. Insyaallah tahun ini di sana sudah tidak ada lagi yang kekeringan,’’ ungkapnya, kemarin (27/4).
Sebelumnya, terdapat dua desa di utara Sungai Brantas yang rawan kekeringan. Yakni, Desa Bendung, Kecamatan Jetis, dan Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong.
Untuk saat ini, lanjut Khakim, menyisakan tiga desa di selatan Sungai Brantas yang dibayangi krisis air bersih saat kemarau. Yakni, Desa Manduro Manggung Gajah dan Kunjorowesi di Kecamatan Goro serta Desa Duyung di Kecamatan Trawas.
’’Walau begitu, sampai saat ini tiga desa tersebut masih belum mengajukan dropping air bersih. Mungkin karena sekarang masih ada hujan ya,’’ sebutnya.
Musim kemarau tahun diprediksi bakal berlangsung lebih panjang akibat terjadinya fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki ’’Godzilla’’. Dampaknya tak sekadar mempengaruhi cuaca, tetapi bisa memicu terjadinya krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga ancaman gagal panen.
Pada musim kemarau tahun ini, BPBD menyediakan pagu sekitar 300 tangki dengan kapasitas tangki masing-masing sebesar 4.500 liter air bersih. Khakim mengatakan, besaran kuota air bersih tersebut masih bisa ditambah menyesuaikan kebutuhan masing-masing desa jika kekeringan melanda. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah