”Mulai tahun kemarin sudah masuk perencanaan untuk pembuatan kolam lindi, karena yang ada sekarang sudah tidak produktif,”
Ikromul Yasak
Plt Kepala DLH Kota Mojokerto
’’Di wilayah Randegan RW 1 itu banyak yang kena penyakit diare, TBC, dan di situ banyak stunting-nya
Mat Ali
Warga RW 1 Lingkungan Randegan
Warga Sekitar TPA Randengan Banyak Derita Penyakit
KOTA – Kolam lindi di TPA Randegan, Kota Mojokerto, tak berfungsi. Akibatnya air resapan sampah berwarna pekat itu mencemari lingkungan dan sumur bor milik warga. DLH Kota Mojokerto mengklaim telah menyiapkan proyek pembangunan tempat pengelolaan lindi untuk mengatasi persoalan tersebut.
Plt Kepala DLH Kota Mojokerto Ikromul Yasak menyatakan, aliran lindi muncul dari tumpukan sampah di TPA sebelah timur. Menurutnya, limbah cair tersebut menyebar akibat posisi kolam lindi lebih tinggi dari sampah. ”Ini sedang kami upayakan dengan tim teknis untuk pengelolaan lindi nanti rencananya kami taruh di ujung selatan sebelah barat dekatnya gedung Diklat BKPSDM,” tuturnya.
Menurut dia, perencanaan proyek tersebut saat ini dapat tahap survei oleh tim ahli dari ITS Surabaya. Yasak menyebut, pengelolaan lindi tak hanya ditampung dalam kolam, melainkan juga bisa diolah menjadi pupuk cair. ”Mulai tahun kemarin sudah masuk perencanaan untuk pembuatan kolam lindi, karena yang ada sekarang sudah tidak produktif,” tandasnya.
Sebelumnya, warga menyatakan pencemaran sampah TPA Randegan memicu penyakit diare, tuberkulosis (TBC), hingga stunting. Kondisi tersebut dinilai akibat aliran air lindi ke wilayah permukiman. ’’Di wilayah Randegan RW 1 itu banyak yang kena penyakit diare, TBC, dan di situ banyak stunting-nya,” ungkap Mat Ali, warga RW 1 Lingkungan Randegan.
Menurutnya, aliran lindi memicu bau busuk dan mengundang lalat. Selain mengancam kesehatan, kondisi lingkungan yang tak sehat menghambat tumbuh kembang anak. ”Bagi yang tidak mampu, gizinya kurang, otomatis dampaknya ke stunting,” imbuhnya. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah