Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tiga Desa di Mojokerto Dihantui Ancaman Banjir Luapan Kali Lamong

Fendy Hermansyah • Kamis, 5 Februari 2026 | 09:30 WIB

 

BUTUH SOLUSI: Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa saat mengecek titik banjir luapan di Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Januari lalu.
BUTUH SOLUSI: Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa saat mengecek titik banjir luapan di Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Januari lalu.
Pemdes Tagih Penanganan Permanen dari BBWS 

DAWARBLANDONG - Banjir Kali Lamong hingga kini masih membayangi warga tiga desa di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Upaya penanggulangan banjir dibutuhkan untuk memutus bencana yang terus terulang setiap hujan deras tiba. 

Seperti diketahui, Desa Banyulegi, Desa Pulorejo, dan Desa Talunblandong di Kecamatan Dawarblandong jadi langganan banjir luapan Kali Lamong. Seperti pada Desember 2025 dan Januari lalu. Sawah hingga permukiman warga tergenang banjir luapan setelah wilayah hulu diguyur hujan deras. 

Kepala Desa Banyulegi Toni mengungkapkan, langkah konkret penanggulangan banjir perlu dirumuskan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo selaku pemangku kewenangan. Pemerintah Desa (Pemdes) Banyulegi ancang-ancang menyurati BBWS Bengawan Solo untuk duduk bareng menuntaskan persoalan banjir langganan tersebut. ’’Mungkin dalam waktu dekat ini kita akan surati,’’ sebutnya, kemarin (4/2). 

Menurutnya, sejauh ini belum ada penanganan konkret dari BBWS Bengawan Solo. Baik penanganan darurat maupun pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Desa Banyulegi. ’’Tahun 2021 sempat bilang mau dibangun tanggul (permanen, Red), tapi sampai sekarang masih belum juga,’’ urainya. 

Toni menilai, pemicu utama banjir yang terjadi belakangan ini akibat tingginya intensitas hujan dan debit air Kali Lamong. Seringkali, lanjutnya, air hujan di persawahan tak bisa mengalir ke sungai karena klep di tanggul Kali Lamong tertutup saking tingginya debit air di badan sungai. ’’Mungkin kalau ada pompa banjir permanen di situ bisa membuang air dari sawah melewati tanggul,’’ tutur Toni. 

Ia menyebut, sejumlah langkah konkret perlu dirumuskan untuk direalisasi segera. Itu karena warga merasa waswas setiap hujan lebat tiba saking seringnya banjir melanda. Apalagi BMKG memprakirakan masa puncak musim hujan terjadi pada bulan Februari ini. Otomatis potensi kembali terjadinya banjir Kali Lamong kian meningkat. ’’Kita koordinasikan dahulu dengan kecamatan untuk menyurati BBWS ini,’’ tukas Toni. (vad/fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#desa mojokerto #kelana desa #Desa Kita #banjir mojokerto #Desa Bisa Maju