Versi Info Mitigasi, Platform Informasi dan Edukasi
KOTA – Kota Mojokerto masuk dalam wilayah yang berpotensi tinggi mengalami banjir. Peringatan itu didasarkan pada data hidrologi dan cuaca terkini, hingga data historis dan topografi.
Peringatan potensi banjir itu disampaikan Info Mitigasi, sebuah platform informasi dan edukasi yang berfokus pada mitigasi bencana, konservasi, dan kemanusiaan. Dalam peta yang dirilis kemarin (23/1) pagi, Kota Mojokerto termasuk wilayah zona merah dengan potensi banjir kategori tinggi. Wilayah lain di Jawa Timur yang masuk zona tersebut ada Surabaya, Gresik, sebagian Sidoarjo, sebagian Bangkalan, sebagian Ngawi, sebagian Magetan, dan Probolinggo.
Pihak Info Mitigasi menyatakan, peringatan ”notifikasi berpotensi banjir” itu didasarkan pada data update observasi pukul 07.00. Menurut platform tersebut, peta sebaran potensi banjir yang mencakup wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara itu mengacu, ”data hidrologi, data cuaca per jam, per 3 jam, per 6 jam, per 12 jam, per 6 jam, per 24 jam, per 3 harian, per dasarian,” klaim pihak platform, kemarin (23/1). Selain itu, peta juga disusun berdasarkan data geologi dan tutupan lahan, data historis, serta data topografi wilayah.
Ketua Tim Kerja Meteorologi BMKG Juanda Andrie Wijaya mengatakan, BMKG hanya mengeluarkan prakiraan hujan dengan level tertentu di seluruh wilayah Jatim. Terbaru, Dokumen Press Release Kewaspadaan Cucaca Esktrem di Jawa Timur 21-30 Januari 2026 dirilis pada Selasa (20/1) lalu.
Melalui peringatan itu, BMKG meminta masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem berupa curah hujan tinggi dan angin kencang yang dapat mengakibatkan bencana banjir hingga longsor selama 10 hari ke depan. Kondisi itu berpotensi terjadi di hampir seluruh wilayah Jatim, termasuk Kota dan Kabupaten Mojokerto.
Terkait pemetaan potensi banjir yang dibuat Info Mitigasi, Andrie menyebut, hal itu biasanya didasarkan pada topografi daerah dalam menampung curah hujan hingga ketinggian daerah. ”Serta kondisi drainase daerah tersebut apakah baik atau buruk,” jelasnya saat dihubungi Jumat (23/1).
Sebelumnya, Kalaksa BPBD Kota Mojokerto Ganesh P. Kresnawan menyatakan, Kota Mojokerto memang masuk dalam wilayah waspada menghadapi bencana bencana hidrometeorologi basah yang terjadi akibat hujan deras yang melebihi batas normal.
Kategori bencana tersebut mencakup banjir, tanah longsor, hingga puting beliung. ”Dari prakiraan BMKG, potensi cuaca ekstrem ini akibat adanya dinamika atmosfer di sejumlah daerah di Jawa Timur. Pemprov Jatim sudah menyampaikan bahwa Kota Mojokerto masuk dalam wilayah waspada menghadapi bencana hidrometrologi basah,” tuturnya, Kamis (15/1) lalu. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah