Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Giliran Siswa di Kota Diduga Alami Keracunan MBG, Tiga Hari Muntah-muntah dan Diare

Indah Oceananda • Selasa, 20 Januari 2026 | 04:45 WIB

 

SEPI: Suasana lingkungan SDN Wates 6, Senin (19/1). Sebagian siswa di lembaga tersebut diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG.
SEPI: Suasana lingkungan SDN Wates 6, Senin (19/1). Sebagian siswa di lembaga tersebut diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG.

SPPG Sebut Tergantung Imun Anak-anak

KOTA – Belum hilang trauma keracunan menu soto Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami 411 siswa, santri, wali murid, dan guru di wilayah Kecamatan Kutorejo dan Mojosari, Kabupaten Mojokerto pekan lalu, kemarin kondisi serupa giliran dialami para siswa di Kota Mojokerto. 

Sejumlah siswa dari tingkat SD hingga SMA di Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, dikabarkan mengalami muntah dan diare. Beberapa wali murid mengindikasikan anak mereka diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG yang dibagikan di sekolah. 

MK, salah seorang wali murid SMAN 2 Mojokerto mengungkapkan, anaknya mengalami diare dan muntah-muntah sejak Jumat (16/1). Kondisi itu berlangsung selama tiga hari hingga Minggu (18/1). Awalnya, ia mengira kondisi yang dialami putranya tersebut setelah mengonsumsi nasi briyani yang dibeli di hari yang sama. ”Tapi, dia ternyata tidak ikut makan,” tuturnya, kemarin (19/1). 

Dirinya mencurigai anaknya mengalami dugaan keracunan MBG yang dibagikan pada Kamis (15/1). Di mana, hari itu merupakan hari terakhir siswa masuk sekolah sebelum libur panjang peringatan Isra Mikraj. Menurut M, gejala serupa juga turut dialami banyak siswa lainnya. ”Di grup WA sekolah banyak yang bilang juga kena diare, tidak satu anak saja,” ungkapnya. 

Kemarin (19/1), putranya yang duduk di kelas XII tetap berangkat sekolah. Namun, ada murid yang belum masuk dan masih menjalani perawatan di rumah sakit. ”Kalau anak saya tidak sampai masuk rumah sakit, minum obat sendiri di rumah,” tandas dia. 

YH, wali murid lain di SMAN 2 Mojokerto menambahkan, anaknya juga mengalami gejala serupa. Saat pulang sekolah pada Kamis (15/1), wajah anaknya pucat dan badannya menggilir.

Tak lama kemudian, remaja itu muntah-muntah dan diare. Hari itu, anaknya mendapat menu MBG nasi dengan lauk ayam goreng dan tempe orek serta minuman susu cokelat merek Clevo. ”Saya kira keluhan biasa, tapi ini tadi (kemarin, Red) ada ramai-ramai katanya ada keracunan MBG, berarti bisa jadi anak saya salah satu korbannya,” ucap dia, kemarin. 

Kondisi klinis itu dialami anaknya sampai Sabtu (17/1) dan sembuh setelah menjalani perawatan mandiri di rumah. YH mengaku mendapat kabar dugaan keracunan MBG juga terjadi di SDN Wates 1, 3, 4 yang berada di samping SMAN 2 Mojokerto. Kemarin para guru di kompleks sekolah tersebut tengah mendata siswa yang diduga mengalami gejala keracunan. ”Di-list siapa saja yang merasa mengalami keluhan,” imbuh dia. 

Paket MBG di wilayah Kelurahan Wates didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wates. Sesuai informasi di akun media sosial SPPG, menu MBG pada Kamis (15/1) itu berupa nasi putih, tumis sawi wortel, tahu tempe balado, ayam goreng ungkep, dan kelengkeng. Makanan yang dibagikan pada hari itu mencapai 3.997 porsi untuk 20 kelompok penerima manfaat. Meliputi, lembaga pendidikan tingkat TK, SDN, SMPN, MTs, SMA, SMK, MA, serta posyandu. 

Sementara itu, Satgas MBG Wates, Kecamatan Magersari, Didik membenarkan adanya insiden tersebut. Kendati demikian, ia belum bisa memastikan jika keracunan yang dialami anak-anak itu disebabkan pasca mengonsumsi menu MBG. ”Belum bisa memastikan, apakah dari menu MBG, karena kita nyuplai-nya dari Kamis (15/1), tapi anak-anak keluhan mulai Sabtu (17/1) sore,” ungkapnya. 

Namun, dia menegaskan, dugaan sementara anak-anak mengonsumsi susu kemasan yang disuplai oleh SPPG. ”Dugaan sementara karena susunya, tapi imun anak-anak juga memengaruhi,” paparnya. Meski insiden tersebut terjadi, Didik mengatakan, pengiriman MBG masih tetap berjalan seperti biasa di sekolah-sekolah. ”Cuma untuk menu kita ganti dengan menu kering dulu sementara waktu, untuk antisipasi,” paparnya. (adi/oce/ris)

 

 

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#keracunan mbg #MBG Basi #keracunan massal #mbg mojokerto