Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

BGN Tutup SPPG Yayasan Bina Bangsa di Kutorejo Mojokerto

Farisma Romawan • Sabtu, 17 Januari 2026 | 05:55 WIB

SALING SUPPORT: Wakil Bupati Mojokerto M. Rizal Oktavian bersalaman dengan Kepala BGN Dadan Hindayana saat rapat konsolidasi di Surabaya beberapa waktu lalu.
SALING SUPPORT: Wakil Bupati Mojokerto M. Rizal Oktavian bersalaman dengan Kepala BGN Dadan Hindayana saat rapat konsolidasi di Surabaya beberapa waktu lalu.
KABUPATEN - Operasional SPPG Yayasan Bina Bangsa 03, Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, tidak sekadar dihentikan sementara. Pasca ratusan siswa dan santri di Kecamatan Kutorejo alami keracunan massal usai menyantap menu soto MBG, Sabtu (10/1) lalu Badan Gizi Nasional (BGN) menutup SPPG hingga batas waktu yang tidak ditentukan. 

Keputusan ini diambil menyusul ditemukan indikasi penyebab keracunan, yakni dari sajian telur dalam menu soto ayam yang dibagikan SPPG ke 2.679 siswa dan santri penerima manfaat, Jumat (9/1) lalu. Di mana, telur tersebut ternyata telah dimasak dua hari sebelum paket MBG didistribusikan dan dikonsumsi para siswa maupun santri. 

Kepala Regional BGN Jawa Timur Mahda Pradewa menegaskan, penutupan SPPG berlaku sampai ada instruksi lanjutan dari BGN pusat. Ia juga menegaskan jika kewenangan membuka atau menutup SPPG sepenuhnya ada di tangan BGN pusat.

’’Hasil investigasi dari BGN pusat, tidak ada batas waktu. BGN pusat yang menentukan kapan beroperasi kembali atau ditutup,’’ ungkapnya usai menghadiri rapat bersama lintas instansi di Smart Room Satya Bina Karya (SBK) Kantor Bupati Mojokerto, Kamis (15/1). 

Hingga saat ini, Mahda memastikan BGN masih mendalami peristiwa dugaan keracunan yang disebabkan MBG tersebut.  Termasuk menindaklanjuti permintaan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai agar mengevaluasi dan merombak total semua pegawai SPPG.

Dengan harapan, tidak terjadi lagi masalah serupa di kemudian hari. Permintaan tersebut turut ia sampaikan kepada BGN untuk dijadikan bahan pertimbangan. ’’Nanti bisa jadi masukan buat kami. Informasi dari Menteri HAM akan kami sampaikan kepada BGN,’’ tandasnya. 

Seperti diketahui sebelumnya, korban keracunan MBG tercatat mencapai 411 orang. Dari jumlah itu, hingga Kamis (15/1), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto menyebut masih ada tiga orang menjalani perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan berbeda.

Selebihnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Korban keracunan terbanyak dialami siswa dan santri dari dua pondok pesantren, yakni Mahad An Nur Desa Singowangi dan Al Hidayah di Desa Wonodadi. (far/ris)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#keracunan mbg #Keracunan Mojokerto #Sppg mojokerto #badan gizi nasional #mbg mojokerto