KABUPATEN - Trauma para siswa korban terdampak keracunan massal menu soto MBG menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto bahkan mendapati informasi hingga kini para korban enggan untuk mengonsumsi menu berkuah maupun nasi.
Dengan demikian, pemerintah berusaha untuk menyembuhkan trauma, termasuk mengembalikan kepercayaan sekaligus menyakinkan kepada para siswa bahwa menu MBG aman untuk dikonsumsi.
Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati mengungkapkan, secara utuh dugaan keracunan massal memang sudah menemui titik terang. Dari banyaknya sampel makanan yang dilakukan uji laboratorium juga sudah ditemukan apa yang menjadi sebab keracunan. ’’Tetapi, yang paling penting saat ini adalah bagaimana kita melakukan trauma healing kepada para korban. Karena masih banyak anak-anak kita tidak mau makan,’’ paparnya.
Ke depan, lanjut Dyan, memulihkan trauma para korban keracunan ini menjadi PR bersama. Termasuk bagaimana upaya meyakinkan kepada para koban untuk mau mengonsumsi MBG lagi pasca peristiwa yang mengancam kesehatan mereka.
’’Jadi, setelah penanganan terhadap pasien sudah tuntas, ke depan yang menjadi fokus kita bagaimana kita meyakinkan anak-anak kita ini kembali mau mengonsumsi MBG. Karena saat dirawat di rumah sakit pun mereka memilih makanan kue daripada nasi, apalagi yang berkuah,’’ tandasnya.
Di sisi lain, Pemkab Mojokerto memilih bungkam atas hasil uji laboratorium yang menyebabkan keracunan massal usai konsumsi menu soto ayam MBG di Kecamatan Kutorejo dan Mojosari. Pemerintah daerah (pemda) memilih mengirimkan hasil investigasinya terkait faktor pemicu keracunan kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
’’Saya belum tahu (hasil uji lab), karena dari BGN ada investigasi sendiri,’’ ungkap Bupati Muhammad Albarraa kepada Jawa Pos Radar Mojokerto (JPRM), kemarin (16/1). Begitu juga atas hasil uji laboratorium yang sebelumnya dilakukan pemda di Labkesda Kabupaten Mojokerto, belakangan pihaknya juga tidak mengetahui secara pasti. Sebab, banyak komponen yang dilakukan uji. ’’Kalau Labkesda kan banyak komponen yang diuji lab, jadi saya tidak tahu secara utuh untuk menyimpulkan,’’ tandasnya.
Dyan menambahkan, hasil uji laboratorium terhadap sampel menu makanan yang dikonsumsi para korban keracunan belakangan sudah keluar. Hanya saja, pemda tidak bisa membuka secara utuh ke publik lantaran sudah diserahkan kepada BGN sebagai leading sector atas program MBG. ’’Prinsipnya hasil laboraturium sudah keluar dan sudah kita serahkan ke BGN untuk mengungkapkannya ke publik,’’ terangnya.
Sebelumnya, DPRD Kabupaten Mojokerto mendorong Pemkab Mojokerto membuka secara transparan atas hasil uji laboratorium penyebab utama keracunan massal usai konsumsi menu soto ayam MBG. Setidaknya pengungkapan fakta-fakta tersebut menjadi tanggung jawab moral pemerintah daerah (pemda) kepada masyarakat atas peristiwa yang berdampak pada ratusan siswa dan santri ini. (ori/fen/ris)
Editor : Fendy Hermansyah