KOTA - Petani melakukan aktivitas perawatan tanaman padi di areal persawahan Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, kemarin (16/1). Menyusul, lahan pertanian di wilayah dengan tiga kecamatan dan 18 keluarahan ini masih sangat terjaga.
Sehingga para kelompok tani pun terbilang optimal dalam menggarap lahan lahan produktif seluas sekitar 369 hektare untuk tanaman padi di wilayah kota. ”Ini melebihi angka perencanaan,” ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Mojokerto Novi Rahardjo, Jumat (16/1).
Dari data yang dihimpun, setidaknya dari luas lahan tersebut terdapat 96 hektare lahan yang ditetapkan sebagai lahan pertanian berkelanjutan (LP2B). Di mana, untuk lahan pertanian di wilayah Kecamatan Magersari dinilai relatif stabil, sedangkan di Kecamatan Prajurit Kulon justru mengalami penyusutan lahan yang cukup signifikan. Dengan perkiraan penyusutan tahunan sekitar 10 persen.
Kondisi ini lebih dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan kawasan permukiman dan perkantoran. ”Namun, alhamdulillah Kota Mojokerto mampu menghasilkan beras jauh melebihi kebutuhan konsumsi tahunan kota. Artinya, ini menunjukkan ketahanan pangan yang baik,” tandas mantan Sekwan DPRD Kota Mojokerto ini.
Novi menegaskan, untuk menjaga ketahanan pangan, belakangan DKPP turut menerapkan pola siklus tanam. Dari semula dua kali tanam dua kali panen dalam setahun, diubah menjadi tiga kali tanam tiga kali panen. Langkah itu dilakukan sekaligus untuk meningkatkan produktivitas hasil panen padi. ”Mengingat, infrastruktur pertanian dan irigasi yang sangat mewadahi. Dan tampaknya program tiga kali tanam tiga kali panen dalam setahun ini akan terwujud,” imbuh Novi.
Sehingga meski di sisi lain luas lahan pertanian perlahan mengalami penyusutan, akan tetapi kelompok tani tetap produktif mengolah lahan pertanian mereka. ”Dengan demikian menjadikan Kota Mojokerto ini surplus beras yang sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional,” tandas Novi. (fan/ris)
Editor : Fendy Hermansyah