Koordinator Wilayah BGN Mojokerto Rosidian Prasetyo mengatakan, pemulihan psikologis siswa menjadi prioritas utama BGN saat ini disamping menginvestigasi peristiwa dugaan keracunan. Wujudnya berupa edukasi hingga trauma healing yang berjalan di 22 lembaga pendidikan yang disuplai MBG oleh SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 3. Recovery dijadwalkan berlangsung selama dua pekan, terhitung sejak peristiwa dugaan keracunan dialami ratusan siswa di Kecamatan Kutorejo.
’’Kami kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk proses recovery psikologis siswa. Harapannya siswa tidak lagi trauma dengan program MBG karena ini sudah menjadi program nasional,’’ ungkapnya.
Meski demikian, proses recovery tersebut tak lantas dibarengi dengan suplai MBG kepada siswa 2.679 siswa yang sejak September lalu menerima paket makan gizi seimbang dari SPPG yang dikelola Pondok Pesantren Al Hidayah tersebut. Termasuk dengan cara mengalihkan ke SPPG lain yang justru sulit dioptimalkan.
Hal ini karena setiap SPPG sudah memiliki penghitungan anggaran baku dalam menyuplai MBG, yakni berdasarkan jumlah siswa penerima manfaat yang disasar.
’’Selama ini SPPG kan berjalan sesuai dengan jumlah siswa sasaran dalam proposal yang sudah mereka ajukan. Kalau dialihkan, maka harus mengubah dulu pengajuan pagu anggaran, sementara program ini harus berjalan terus menerus. Ya, untuk sementara ini suplai MBG berhenti dulu sambil menunggu hasil evaluasi dan petunjuk pimpinan,’’ tandasnya. (far/fen/ris)
Editor : Fendy Hermansyah