Seperti diketahui, terdapat sejumlah aliran sungai yang membelah empat kecamatan di utara Sungai Brantas. Selain Kali Mas, ada aliran Sungai Marmoyo yang membelah wilayah Kemlagi dan Gedeg serta Kali Lamong di Dawarblandong. Di Kecamatan Dawarblandong, terdapat tiga desa yang kerap dilanda banjir luapan anak Kali Lamong setiap hujan deras. Yakni, Desa Pulorejo, Banyulegi, dan Talunblandong.
Sejak Jumat (9/1) lalu, Desa Pulorejo dan Banyulegi bergiliran diterpa banjir luapan. Asesmen BPBD Kabupaten Mojokerto menunjukkan, pemicu banjir akibat tingginya debit air ditambah minimnya infrastruktur pengendali banjir pada aliran sungai. Terutama yang berada di dekat area permukiman.
”Jadi sepanjang aliran Kali Lamong di wilayah Dawarblandong ini rawan banjir luapan. Dan sudah jadi langganan di sana,” beber Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim, kemarin (13/1). Mengingat, mayoritas tanggul aliran Kali Lamong hanya terbuat dari tanah dan belum dipasangi revetment. Praktis, banjir luapan membayangi warga setiap debit sungai meningkat.
”Di Desa Pulorejo, posisi jembatan (Dusun Klanting) lebih rendah dari jalan. Dan tanggulnya belum ada yang permanen,” jelasnya. Di Desa Banyulegi, banjir menggenangi 20 rumah warga setelah debit air merembes menembus tanggul Kali Lamong. Pun begitu di wilayah Kecamatan Kemlagi, Gedeg dan Jetis.
Simpang Empat Jetis langganan tergenang banjir luapan saat hujan deras. Penyebabnya, saluran air di sekitar lokasi tak mampu menampung debit air tinggi. Sementara aliran Sungai Marmoyo rawan meluap akibat kerap tersumbat sampah.
Pemda juga terganjal kewenangan untuk melakukan penanggulangan banjir secara permanen di aliran sungai. Mengingat, sejumlah aliran sungai di Mojokerto di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas maupun Bengawan Solo. Sehingga, Pemkab Mojokerto hanya bisa menerapkan langkah mitigasi dan meminimalisir dampak banjir.
”Salah satunya dengan normalisasi, itu pun kami harus koordinasi BBWS yang berwenang di masing-masing aliran sungai,” tambah Kabid Sumber Daya Air Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto Rois Arif Budiman. Kondisi ini diperparah dengan tingginya potensi cuaca ekstrem belakangan ini. BMKG Juanda memprakirakan, potensi cuaca ekstrem meningkat seiring dengan wilayah Mojokerto yang memasuki puncak musim hujan hingga Februari mendatang. (vad/ris)
Editor : Fendy Hermansyah