BGN juga turut memeriksa dan menginvestigasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03, Desa Wonodadi sebagai penyuplai Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada siswa dan santri di 20 lembaga pendidikan se-Kecamatan Kutorejo. ’’Untuk operasional SPPG (Yayasan Bina Bangsa Semarang 03) dihentikan sementara dan kami coba untuk usulkan pengalihan suplai MBG untuk 2.679 penerima manfaat ke SPPG lain,’’ ungkap Koordinator wilayah BGN Kabupaten Mojokerto Rosidian Prasetyo.
Dalam investigasinya, Rosi telah memeriksa sejumlah pihak, mulai dari kepala dapur, ahli gizi, hingga relawan yang bekerja menyiapkan menu MBG di hari Jumat (9/1). Hanya saja, hasil dari investigasi belum bisa dijadikan acuan apakah keracunan disebabkan karena paket MBG atau karena sebab lain. Termasuk apakah ada indikasi kesalahan maupun kelalaian baik cara penyajian hingga pengemasan makanan sebelum dibagikan kepada siswa dan santri. Sebab, jeda waktu antara mengonsumsi MBG dengan keluhan yang dialami siswa dan santri cukup panjang, yakni lebih dari 12 jam.
Pihaknya menyebutkan, rata-rata siswa mengeluh mual, muntah hingga diare pada hari Sabtu (10/1) pukul 09.00. Padahal, waktu mengonsumsi MBG dengan menu soto ayam berlangsung hari Jumat (9/1) pukul 12.00. Jeda waktu inilah yang bisa juga dimungkinkan disebabkan faktor selain paket MBG. ’’Kami belum bisa menyimpulkan karena waktu penyajiannya itu Jumat siang. Sedangkan keluhannya secara keseluruhan Sabtu pagi meski beberapa ada yang mengeluh Jumat malam. MBG itu kan maksimal dikonsumsi siang hari, sementara siswa dan santri ini kan juga mengonsumsi dari pondok atau di rumah waktu sorenya,’’ ungkapnya.
Meski demikian, Rosi terus mengklarifikasi setiap elemen petugas SPPG. Juga, memastikan pekerjaan mereka apakah sesuai standar dengan mengacu pada petunjuk teknis (juknis) yang sudah ditentukan BGN. ’’Kami akan mendalami dengan hasil yang akan diterbitkan Dinkes dan kepolisian,’’ tambahnya.
Sejumlah santri mengaku mengeluh sakit sejak Jumat malam saat waktu belajar pukul 20.00. Semula, mereka mengeluh mual lalu diikuti dengan muntah dan diare. Bahkan, beberapa diantaranya juga mengeluh pusing dan demam tinggi sehingga harus dirujuk ke Puskemas atau rumah sakit. ’’Menunya soto ayam. Terasa sakit pusing pada jumat malam, Terus saat bangun pagi tadi (sabtu) perut terasa sakit,’’ tandas Muis, pelajar kelas 2 MTs Mahad An Nur.
Hal yang sama juga diutarakan Azizah, siswa kelas X SMA Al Hidayah yang harus ikut merawat adik-adik santrinya karena sakit pusing hingga diare sejak Jumat (9/1) malam. Azizah mengakui, sebagian besar adik-adiknya mengeluh sakit sakit akibat mengonsumsi MBG menu soto ayam. Saat itu, paket asupan gizi seimbang tersebut memang baru pertama kali mereka dapatkan setelah libur semester ganjil. ’’MBG hari Jumat (9/1) itu baru pertama kali diberikan setelah libur semester. Menunya soto tapi daging ayamnya bukan disuwir, melainkan dicincang seperti seperti toping mi ayam,’’ pungkasnya.
Berdasarkan keterangan medis sementara, gejala mulai muncul sejak Jumat (9/1) sore. Itu terjadi hanya beberapa jam setelah makanan MBG dikonsumsi usai salat Jumat. Keluhan awal berupa pusing, kemudian berkembang menjadi sakit perut, mual, dan muntah pada malam hingga pagi hari. Salah satu siswa kelas IX SMP Negeri 2 Kutorejo mengaku mulai merasakan sakit pada malam hari. ’’Malam (Jumat (9/1) itu perut sudah sakit, paginya muntah-muntah,’’ ujarnya.
Di sisi lain, pondok pesantren juga sempat menyediakan menu serupa. Namun pihak puskesmas menilai indikasi waktu kejadian tidak mengarah ke makanan pondok. ’’Di pondok makannya sore, sementara keluhan sudah muncul sejak sore hari setelah makan siang di sekolah,’’ jelas dr Mustakim, Kepala Puskesmas Pesanggrahan, Kutorejo.
Meski dugaan sementara mengarah pada makanan MBG, pihak medis menegaskan belum ada kesimpulan final. Proses penelusuran sumber makanan dan pemeriksaan lanjutan masih dilakukan oleh pihak terkait. ’’Kami masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. Kesimpulan resmi belum bisa disampaikan,’’ tegasnya. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah