- Tes CBR di Angka 40 Persen
- Picu Renggang dan Bergelombang
KOTA - Jalan Ir. Soekarno di kawasan Taman Bahari Mojopahit (TBM), Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, mengalami kerusakan berkali-kali. Salah satu penyebabnya diduga karena kualitas jalan paving senilai Rp 5,6 miliar tersebut tak memenuhi standar.
Paket proyek pembangunan jalan Balongcangkring-Rejoto pada 2023 itu digarap CV Tiga Lautan Berlian asal Kabupaten Malang. Pekerjaan konstruksi di bekas jalan setapak itu berupa pembuatan jalan paving selebar 8 meter dengan tembok penahan jalan setinggi kira-kira 3 meter.
Hingga dua tahun berlalu, sedikitnya sudah empat kali paving jalan dibongkar pasang karena mengalami renggang, bergelombang, dan amblas. Perbaikan itu dilakukan kontraktor dan dilanjutkan dinas PUPR Perakim setelah masa pemeliharaan rekanan habis. Rusaknya ruas jalan di tepi Sungai Ngotok itu diduga akibat kualitas pekerjaan di bawah strandar.
Seorang pejabat di lingkungan Pemkot Mojokerto menguatkan dugaan tersebut. Menurutnya, hasil tes california bearing ratio (CBR) alias kekuatan material perkerasan tanah di jalan sepanjang kurang lebih 1 kilometer itu menunjukkan angka bervariasi. Dari batas minimal 60 persen, terdapat bagian jalan yang hanya memiliki nilai 40 persen. ’’Hasil CBR Jalan Ir. Soekarno itu terbagi tiga, ada yang 40 persen, 60 persen, dan 80 persen,’’ ujarnya, kemarin (7/1).
Hasil uji daya tahan jalan terhadap beban tersebut membuatnya heran. Pasalnya, selain angka CBR-nya tidak merata, terdapat bagian yang berada di bawah standar. ’’Makanya sekarang kondisinya seperti itu (rusak),’’ imbuh dia.
Sementara itu, salah satu kontraktor yang dimintai tanggapan terkait Jalan Ir. Soekarno mengatakan, kerusakan seperti paving renggang dan bergelombang sulit dihindari lantaran kontur jalan berupa tanggul. Tembok penahan di kedua sisi, lanjutnya, lambat laut kalah dari tekanan sehingga berakibat melar. ’’Membangun jalan di situ susah, karena betul-betul bikin jalan baru, artinya perkerasannya yang harus benar-benar matang dan kuat,’’ tandasnya.
Hal senada diungkapkan Pembina Lembaga Pemantau Pembangunan dan Kinerja Pemerintah (LP2KP) Mojokerto Rif’an Hanum. Menurutnya, kerusakan berulang pada paving jalan mengindikasikan kombinasi luputnya pengawasan serta lemahnya perencanaan teknis dan spesifikasi pekerjaan. ’’Seharusnya ada audit secara menyeluruh di proyek jalan TBM ini, apakah benar sudah dikerjakan secara betul,’’ ucap dia.
Di sisi lain, dinas PUPR Perakim berkali-kali menyatakan pekerjaan jalan telah dilakukan secara maksimal, termasuk saat proses perkerasan tanah. Munculnya celah lebar antarpaving disebut karena faktor beban kendaraan dan curah hujan.
Akibatnya, tekanan ke dua sisi jalan bertambah dan memicu paving mengalami renggang. Adapun soal penggunaan material paving alih-alih aspal untuk Jalan Ir. Soekarno, pemkot mengklaim hal itu sesuai dengan rekomendasi BBWS Brantas selaku pemilik aset. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah